Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
12 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
2
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
14 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
3
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
8 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
4
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
20 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
5
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
9 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
6
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
7 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Home  /  Berita  /  Non Olympic
Olimpiade 2020 Tokyo

Tersingkir, Bagas Tak Mampu Atasi Cuaca Ekstrim

Tersingkir, Bagas Tak Mampu Atasi Cuaca Ekstrim
Bagas Prastyadi . (Dok. NOC Indonesia)
Kamis, 29 Juli 2021 10:50 WIB
Penulis: Azhari Nasution

TOKYO – Langkah atlet panahan andalan Indonesia, Bagas Prastyadi terhenti di babak penyisihan 32 besar nomor Recurve pereorangan putra cabang bulutangkis Olimpiade 2020 Tokyo.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Yumenoshima Final Field, Kamis (29/7), Bagas kalah dari atlet Australia, Taylor Worth, dalam tiga set langsung, menyusul Arif Dwi Pangestu yang sudah tersingkir dua hari sebelumnya.

Di set pertama, Bagas kalah 26-25, dan dia tak mampu mengimbangi dua bidikan sempurna Worth di set kedua saat kalah 29-26. Bidikan Bagas membaik di set ketiga dengan dua bidikan 9 dan satu bidikan 10, tapi dua bidikan 10 dari Worth mengakhiri perlawanan Bagas.

Atlet berusia 19 tahun ini mengakui dirinya masih harus banyak berlatih lagi untuk menghadapi berbagai situasi. “Saya harus banyak berlatih lagi di cuaca ekstrim seperti ini, khususnya di tempat yang berangin besar. Di sini anginnya besar dan datang dari segala arah.” kata Bagas.

Dengan usia yang masih muda, Bagas belum memiliki banyak pengalaman bertanding dalam kompetisi internasional. Kualifikasi Olimpiade di Paris pada bulan lalu menjadi pengalaman internasional pertamanya. Olimpiade Tokyo 2020 bahkan adalah kompetisi multievent pertamanya.

“Pengalaman yang paling menarik adalah pengalaman bertanding melawan atlet-atlet dari negara lain, karena berbeda rasanya saat bertanding melawan mereka dibandingkan dengan saat bertanding dengan sesame atlet Indonesia. Selain itu secara fisik juga berbeda. Mereka lebih tinggi,” ujar Bagas lagi.

Olimpiade Tokyo 2020 menjadi pengalaman yang membuka mata Bagas. Dia pun tak ingin hanya sekadar numpang lewat di Olimpiade.

“Semoga dari sini saya menjadi lebih tahu lagi bagaimana rasanya bertanding di Olimpiade. Dan Semoga saya bisa tampil di Olimpiade Paris 2024,” katanya.

Sementara itu, pelatih putra Permadi Sandra Wibawa menyebut Bagas sebagai bibit potensial yang harus terus dibina oleh Perpani, khususnya untuk Olimpiade Paris 2024. Dia mengatakan pengalaman di Tokyo memberi banyak masukan untuk bahan evaluasi Perpani dalam mengembangkan prestasi panahan di masa mendatang.

“Ini multievent pertama Bagas. Dia bahkan belum pernah turun di PON dan SEA Games, langsung di Olimpiade. Ini bibit bagus buat Perpani untuk Olimpiade Paris 2024. Semoga kita bisa melakukan evaluasi. Dengan kurangnya kompetisi yang kita ikuti, inilah hasilnya. Jadi kami berharap pembinaan lebih baik ke depan dan lebih banyak kompetisi yang diikuti akan lebih baik,” ujarnya.. ***

wwwwww