Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Beladiri
19 jam yang lalu
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
2
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
7 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
3
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
KOI
21 jam yang lalu
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
4
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
23 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
5
Asael Sumbang Medali Kedua buat Indonesia, Airlangga Berikan Apresiasi
Olympic
18 jam yang lalu
Asael Sumbang Medali Kedua buat Indonesia, Airlangga Berikan Apresiasi
6
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
KOI
21 jam yang lalu
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
Home  /  Berita  /  Nasional

Analis Sebut Pandemi jadi Komoditas Politik

Analis Sebut Pandemi jadi Komoditas Politik
Webinar GIAD bertajuk 'Wabah Baliho Capres di Tengah Pandemi', Senin (2/8/2021). (gambar: tangkapan layar)
Senin, 02 Agustus 2021 15:17 WIB
JAKARTA - Analis Politik Exposit Strategic, Arif Susanto menilai bencana pandemi Covid-19 tengah dijadikan sebagai komoditas politik.

Dalam sebuah webinar yang disaksikan GoNEWS.co, Senin (2/8/2021), Ia menyatakan, partai politik seolah berlomba untuk menjadi yang paling murah hati di tengah pandemi. Kewenangan besar Ketum Golkar, Airlangga Hartarto, menjadi salah satu contoh.

Menurutnya, ini terjadi tidak hanya di partai politik internal kekuasaan pemerintah, tapi juga partai politik di luar kekuasaan pemerintah.

"Demokrat, PKS, yang lainnya, hampir tidak kita dengar mereka memberikan sebuah alternatif," kata Arif sebagaiman disaksikan GoNEWS.co.

Potret survey-survey yang berfokus pada elektabilitas tokoh partai politik dan kepala daerah, menurut Arif, menjadi bukti bahwa tindakan mereka dalam pandemi diharap berpengaruh positif bagi kepentingan elektoral.

Di tengah pandemi, kata Arif, rakyat dibuat menjadi ketergantungan kepada kebijakan bantuan. Di sisi lain, persoalan penting bahwa Indonesia membutuhkan sistem kesehatan publik yang kuat tampak terkesampingkan.

"Orang memberi petuah bijak (kenakan masker, dsb) tapi orang lupa bicara bahwa ini persoalan sistem kesehatan publik," kata Arif.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Nasional, Metropolitan, PON
wwwwww