Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
18 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
22 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
18 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
20 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
16 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
6
Nyawa Atlet Di Ujung Bantingan (Edisi I)
Non Olympic
18 jam yang lalu
Nyawa Atlet Di Ujung Bantingan (Edisi I)
Home  /  Berita  /  Non Olympic
Indonesia Basketball League (IBL) 2022

Dibilang Mirip Michael Jordan, Budi: Itu Apresiasi Orang

Dibilang Mirip Michael Jordan, Budi: Itu Apresiasi Orang
Minggu, 15 Agustus 2021 03:25 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Ali Budimansyah tak bisa disangkal lagi adalah salah satu legenda bolabasket Indonesia. Dia menjadi pemain kedua Indonesia yang masuk dalam Asia All Stars setelah Sony Hendrawan pada tahun 1960-an. Budi terpilih menjadi pemain bintang-bintang Asia pada 1998.

Dia selalu dibandingkan dengan Michael Jordan, mega bintang bolabasket dunia, panggilan akrab sekaligus julukannya menunjukkan apresiasi pecinta basket terhadap prestasinya, “Budi Jordan”.

“Itu apresiasi orang terhadap saya. Saya tidak merasa permainan saya seperti Michael Jordan. Memang, ada beberapa Gerakan Jordan yang saya contoh di lapangan,” katanya.

Budi menduga masyarakat memberikan julukan Budi Jordan, karena dia dengan postur tak begitu tinggi sudah melakukan dunk.

Jordan memang menjadi salah satu idola Budi, namun dia juga mengagumi bintang lainnya seperti Isaiah Thomas dan Earvin “Magic” Johnson.

Talenta Budi memang luar biasa, namun itu diiringi pula dengan kerja keras. Digembleng sang kakak yang juga legenda basket nasional, Bambang Hermansyah, Budi kecil bahkan sudah diajak lari dari rumahnya ke Senayan. “Waktu itu mungkin saya umur 10 tahun, sudah latihan fisik lari hampir sejauh 10 km,” tuturnya.

Di lapangan basket dia juga ditempa. “Saya harus memasukkan bola lewat lay up kiri dan kanan masing-masing sebanyak 50 kali. Jadinya seperti hapal, tanpa melihat ring pun saya bisa memasukkan bola dengan lay up,” ceritanya. 

Usia Sekolah Menengah Pertama, Budi sudah bertandinga melawan pemain-pemain usia SMA dan menang. Bakatnya terus diasah dan makin mengkilat. Budi masuk dalam barisan perebut medali perunggu pertama kali bagi Indonesia pada SEA Games 1993 di Singapura. Perunggu kembali diraihnya pada SEA Games Brunei Darussalam 1999. Dia masuk pula dalam tim nasional Indonesia perintis perebut medali perak pada SEA Games Kuala Lumpur 2001.

Ali Budimansyah memang seorang legenda. Meski merasa tak mirip, pantaslah dia dipanggil “Budi Jordan”. ***

wwwwww