Mantan Kabais TNI Sebut Kemenangan Taliban Bisa Dimanfatkan untuk Propaganda Teroris
![]() |
| Mantan Kepala Bais TNI, Laksda TNI (Purn) Soleman B.Ponto. (Foto tangkap layar Zoom) |
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Mantan Kepala Bais TNI, Laksda TNI (Purn) Soleman B.Ponto, mengingatkan Indonesia harus berhati-hati sebelum mengambil langkah menyangkut Afghanistan. Jangan sampai persahabatan Indonesia dengan negara tetangga rusak karena dianggap berlebihan dalam mengambil sikap.
Hal itu disampaikan Ponto dalam Webinar Partai Gelora yang bertema "Tantangan Taliban: Mampukah Membentuk Pemerintahan yang Efektif", Rabu (1/9/2021).
Acara yang dibuka oleh Ketua DPN Partai Gelora, Anis Matta itu menampilkan nara sumber Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto, mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI, Wawan Purwanto dari Badan Intelijen Negara (BIN) serta pengamat terorisme Harits Abu Ulya.
Menurut Ponto, ada sejumlah dampak dari kembalinya Taliban ke pemerintahan Afghanistan. Yang pertama tentunya adalah munculnya kelompok di Indonesia yang berusaha mengambil manfaat. "Mungkin mengampanyekan, 'di sana Amerika kalah, di sini kita bisa melakukan itu juga'. Misalnya begitu. Mungkin hanya sekedar iseng-iseng berhadiah memanfaatkan situasi untuk kepentingan kelompok dan golongan di sini," kata Ponto.
Kedua, ada tantangan bagi Indonesia untuk bersikap soal konflik di Afghanistan. Dan dalam konteks itu, dia menilai Indonesia harus melihat dulu apa keuntungan dan kepentingan bersama yang bisa diperoleh. "Kalau mau hubungan, harus lihat apa kepentingan kita di sana, apa keuntungan di sana. Jangan sampai kita masuk, malah merusak hubungan kita dengan yang ada di sana," kata dia.
Sebab banyak negara yang memiliki kepentingan terkait Afghanistan, dari India, Pakistan, Tajikistan, Turki, Iran, Arab Saudi, hingga Tiongkok, AS, dan Eropa.
"Jangan sampai kita merusak hubungan kita dengan negara yang selama ini bersahabat di sana. Jadi kita sebaiknya menunggu dan melihat kondisi dulu. Sehingga jangan sampai ada yang salah pengertian, para sahabat kita justru marah hanya karena kita terlalu cepat ambil sikap soal Afghanistan," ulasnya.
Ponto sendiri melihat bahwa masa depan cenderung suram karena begitu banyak pihak luar yang berkepentingan di sana. Bukan hanya AS dan Eropa dengan berbagai korporasi industri militernya, namun juga ada China, India, Pakistan, dan berbagai negara lain yang berkepentingan.
"Jadi kondisi di Afghanistan banyak ditentukan oleh kepentingan di luarnya. Sangat sulit masa depan Afghanistan karena menjadi ajang pertempuran dari negara-negara di sekelilingnya," kata Ponto.
Sementara itu, menurut Anis Matta, hingga kini Taliban masih menghadapi berbagai tantangan untuk bisa menghindari diri dari negara gagal setelah Taliban berkuasa sejak 15 Agustus lalu. Selain perlunya pembangunan negara dan pembentukan pemerintahan yang legal, Taliban masih membutuhkan konsolidasi elit poliitik.
"Sedangkan tantangan terpenting adalah pembangunan ekonomi karena hingga kini negara tersebut masih tergolong sangat miskin," katanya.
Kendati demikian, kata Anis, Afghanistan juga punya potensi kekayaan hingga tiga triliun dollar AS sehingga Indonesia tetap perlu menjalin hubungan dengan negara tersebut.
Sedangkan Wawan Purwanto mengatakan salah satu aspek yang bisa mendorong Indonesia segera membuka hubungan ekonomi dengan Afghanistan adalah kalau Taliban bisa menjaga komitmen mereka untuk menjamin keamanan dalam negeri. Dengan demikian, katanya, tingkat risiko investasi di negara itu bisa membaik sehingga Indonesia bisa segera melakukan hubungan perdagangan.
Menurutnya, salah satu hal yang harus dilakukan adalah melakukan perlucutan senjata dari berbagai kelompok yang masih bertikai di dalam negeri. Alasannya, Taliban membutuhkan pengakuan internasional. "Kalau trust internasional tidak ada maka Taliban tinggal menunggu kejatuhan. Bagaimana membangun stabilitas ekonomi kalau keamanannya tidak terjamin," katanya.***
| Kategori | : | Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta |











