Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
12 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
13 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
14 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
14 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
14 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
21 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Home  /  Berita  /  Olympic

Muktamar ke-34 NU, GP Ansor Tak Mendukung Said Aqil sebagai Ketum PBNU

Muktamar ke-34 NU, GP Ansor Tak Mendukung Said Aqil sebagai Ketum PBNU
Ilustrasi Banser NU
Senin, 11 Oktober 2021 13:26 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Gerakan Pemuda (GP) Ansor berbicara mengenai suksesi kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar Ke-34 NU di Provinsi Lampung akhir Desember 2021.

GP Ansor berharap pada Muktamar ke-34 NU di Lampung adanya regenerasi posisi Ketua Umum PBNU.

Regenerasi yang dimaksud GP Ansor adalah adanya Ketum baru di PBNU pada Muktamar ke-34 NU di Lampung.

"GP Ansor mendorong agar muktamar ke-34 nanti menghasilkan kepemimpinan baru," kata Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Muhammad Haerul Amri dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (11/10/2021) dikutip dari ANTARA.

Haerul mengatakan bahwa Ansor menilai NU selama ini telah berhasil membangun tradisi kepemimpinan yang sangat baik. Kader-kader muda menggantikan yang senior secara berkelanjutan.

"Ini yang perlu diteruskan karena telah menjadi tradisi yang baik," ujar Haerul.

Dikatakannya meski dalam anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) NU tak ada pembatasan masa jabatan. Namun, demi kaderisasi dan kebutuhan zaman, K.H. Said Aqil Siroj sebaiknya memberikan ruang yang luas kepada kader di bawah.

Ia mencontohkan K.H. Hasyim Muzadi yang telah memimpin selama dua periode (1999—2010) tak bersedia dicalonkan lagi sebagai ketua umum di Muktamar Ke-32 NU di Makassar pada tahun 2010.

"Kiai Haji Hasyim menyatakan tak bersedia dicalonkan lagi antara lain karena memberi ruang kepada kader-kader muda untuk memimpin. Selain itu, beliau ingin menghargai sistem kaderisasi yang telah dibangun dengan baik di NU," kata Haerul.

Bahwa K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)—ketua umum sebelum K.H. Hasyim Muzadi—menjabat hingga tiga periode, kata Haerul, tentu tidak bisa disamakan begitu saja.

"Situasi dan tantangan yang dihadapi NU kala itu berbeda dengan sekarang," katanya.

Secara khusus, Ansor juga mengharapkan Ketua Umum PBNU nanti sosok muda, berjaringan luas, memiliki komitmen kuat memajukan NU dan responsif terhadap perubahan zaman.

"Pada usia hampir satu abad ini, cita-cita NU harus ditransformasikan ke level global dan NU memiliki sejumlah tokoh yang berkaliber internasional," katanya.

Menjelang muktamar NU akhir Desember mendatang, ada dua nama yang disebut-sebut bakal mencalonkan diri, yakni K.H. Said Aqil Siroj yang akan maju sebagai ketua umum untuk kali ketiga dan K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang sekarang menjabat Katib Aam PBNU.

Said Aqil Siroj sendiri mengaku tidak keberatan dicalonkan lagi menjadi ketua umum PBNU untuk ketiga kalinya.

"Kalau diminta siap. Tidak ada batasan (AD/ART). Tidak ada masalah, Gus Dur juga tiga kali," kata Kiai Said saat berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (7/10/2021).***

wwwwww