Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
19 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
19 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
19 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
19 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
19 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
19 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Untuk Menata Masa Depan Bangsa, Indonesia Butuh PPHN

Untuk Menata Masa Depan Bangsa, Indonesia Butuh PPHN
Pendiri HIPMI sekaligus mantan Menteri Tenaga Kerja (Menaker) era Orde Baru, Abdul Latief. (Foto: GoNews.co)
Senin, 11 Oktober 2021 18:18 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA – Bagi mantan Menteri Tenaga Kerja (Menaker) era Orde Baru, Abdul Latief, hadirnya Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang sekarang bernama Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) sangatlah penting. Bahkan untuk menata masa depan bangsa,  Indonesia sangat membutuhkan PPHN.

Demikian diungkapkannya saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion/FGD MPR RI bertema 'Pokok-Pokok Haluan Negara', di Media Center Gedung Nusantara III Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (11/10/2021).

Untuk itu, Ia berharap masyarakat khususnya para elite yang selama ini tidak setuju dengan keberadaan PPHN, harus segera berfikir ulang. "Ketika kita bicara masalah PPHN, setuju atau tidak setuju, maka salah besar kalau kita tidak setuju. Sebab PPHN inilah wadah bagi bangsa kita untuk menyusun dan menata masa depan," ujarnya.

Abdu Latief juga menambhakan, PPHN adalah rencana dan dalam manajemen suatu rencana yang baik itu 65% jalan ke sukses, karena itu dirancang dan diskusikan dengan seksama. Dirinya berharap adanya PPHN dalam prospek pembangunan jangka panjang. "Kalau ada yang bilang tidak butuh PPHN, alasannya apa?. Karena PPHN ini sangat, sangat, penting untuk diwujudkan," tandasnya.

Ia juga berharap sistem perencanaan pembangunan nasional melalui proses politik, proses tekhnokratik dan proses partisipatip, ini pasti berhasil. Untuk itu, dalam rangka mewujudkan rencana memunculkan kembali PPHN, semua pihak diminta duduk bersama, dan membahas dengan tenang kedepan. "Pembahasan tersebut harus melibatkan seluruh elemen banga, seperti profesornya, kyai, ada pendeta, tokoh-tpkph politik bahkan jika perlu para rektor," pungkasnya.***

wwwwww