Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
13 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
14 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
15 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
15 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
15 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
22 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Home  /  Berita  /  Nasional

Kata Jamiluddin Ritonga soal Celeng vs Banteng

Kata Jamiluddin Ritonga soal Celeng vs Banteng
Ilustrasi. (gambar: ist./jpnn)
Kamis, 21 Oktober 2021 14:33 WIB
JAKARTA - Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga dalam keterangan resmi yang dikutip di Jakarta (21/10/2021), menyatakan pandangannya mengenai perseteruan celeng vs banteng yang dinilai hanya rekayasa untuk meningkatkan elektabilitas PDIP dan Puan Maharani.

"Penilaian itu tampaknya tidak mendasar, karena tindakan demikian sangat beresiko bagi PDIP. Merekayasa celeng vs banteng sama saja tindakan bunuh diri bagi PDIP dan Puan Maharani," kata Jamil dikutip GoNEWS.co, Kamis.

Kata Jamil, kasus celeng vs banteng sangat tidak menguntungkan bagi Puan. Sebab, Puan diposisikan sebagai pihak yang didukung kekuatan struktural partai. Posisi ini dikesankan sangat berkuasa yang menindas celeng termasuk Ganjar.

"Celeng dan Ganjar justeru diposisikan sebagai yang lemah dan dizolimi oleh kekuatan struktural. Bahkan sosok Puan diposisikan seolah turut menzolimi Ganjar dan celeng," kata dia.

Jadi, kata Jamil, dalam perseteruan celeng dan banteng terdapat pihak penindas dan pihak yang ditindas. Banteng dan Puan digambarkan pihak penindas, sementara celeng dan Ganjar pihak yang tertindas.

"Dalam budaya politik Indonesia, pihak penindas kerap dijauhi oleh pemilih. Mereka ini dianggap jahat dan karenanya akan dijauhi," kata Jamil.

Pihak yang ditindas, lanjut Jamil, justeru kerap mendapat simpati dari masyarakat. Mereka ini umumnya akan dibela dan didukung para pemilih. Karena itu, sulit membayangkan bila celeng vs banteng sengaja diciptakan untuk meningkatkan elekrabilitas PDIP, khususnya Puan. "Justeru dalam kasus ini Puan dirugikan sehingga elektabilitasnya semakin sulit didongkrak," ujarnya.

"Puan dalam kasus ini, bisa jadi popularitasnya semakin meningkat, namun peningkatan itu dalam konotasi negatif. Karena itu, peningkatan popularitasnya tidak akan diikuti peningkatan elektabilitasnya," kata dia.

"Sebaliknya, Ganjar sebagai pihak yang tertindas justeru diuntungkan. Popularitasnya akan semakin tinggi, dan elektabilitasnya juga akan mengikuti," ujarnya menambahkan.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Metropolitan, Nasional, DKI Jakarta
wwwwww