Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
21 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
2
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
21 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
3
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
21 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
4
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
Sepakbola
21 jam yang lalu
Gagal Curi Poin di Bandung, Mundari Karya: Kami Dihukum
5
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
22 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
6
Lewat Single "Cinta Baru", Briana Sukses Buka Perhelatan Jakarta Rocktober 2026
Hiburan
21 jam yang lalu
Lewat Single Cinta Baru, Briana Sukses Buka Perhelatan Jakarta Rocktober 2026
Home  /  Berita  /  Olympic

Belajar dari Kecelakaan Vanessa Angel, Jangan Merasa Aman kalau Disopirin

Belajar dari Kecelakaan Vanessa Angel, Jangan Merasa Aman kalau Disopirin
Polisi saat olah TKP kecelakaan mobil Vanessa Angel. (Foto: Istimewa)
Kamis, 04 November 2021 17:00 WIB

JAKARTA - Vanessa Angel dan suaminya Febri Andiansyah atau Bibi meninggal dunia. Mobil Mitsubishi Pajero Sport yang ditumpanginya ringsek setelah kecelakaan di Tol Jombang arah Surabaya Km 672.

Polisi menyebut, dugaan awal penyebab kecelakaan adalah karena sopir mengantuk. Mobil menabrak beton pembatas dan terpelanting.

"Kendaraan tersebut tiba-tiba menabrak beton pembatas kiri ruas tol dikarenakan sopir mengantuk," kata Dirlantas Polda Jatim Kombes Usman Latif, Kamis (4/11/2021).

Akibatnya, mobil Pajero yang ditumpangi Vanessa Angel dan keluarga terpelanting dan berputar, lalu berhenti di lajur cepat. Kecelakaan terjadi di Km 672 Tol Jombang pukul 12.36 WIB siang tadi.

Menurut Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini adalah jangan merasa aman ketika kita disopiri oleh orang lain.

"Ini kebiasaan dari seorang pengemudi. Ketika ada sopir, dia merasa sopirnya itu robot. Jadi kadang nggak peduli (si sopir) lelah, capek, belum makan, belum minum. Ini masalah," kata Sony kepada detikcom, Kamis (4/11/2021).

"Jadi pelajarannya adalah ketika kita naik mobil kalau disopirin, pastikan kecepatannya itu 100 km/jam. Itu kecepatan maksimal. Kenapa? Karena dia orang lain. Orang lain tidak mementingkan ke nyawa kita. Yang bisa mementingkan nyawa kita ya keluarga. Kalau pengemudi orang lain dia nggak menomorsatukan. Yang ada di otak dia adalah disuruh segera sampai hanya nyetir agar segera sampai, tapi balik lagi fisiknya belum tentu mampu menunjang dia untuk mengemudi," sambungnya.

Dari kecelakaan ini, Sony mengatakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Yang pertama adalah akal sehat, bahwa mengemudi yang aman harus menyesuaikan kecepatan yang ditempuh dengan kemampuan pengemudi.

"Kita nggak bisa bilang larinya 100 km/jam atau 180 km/jam padahal kita tidak bisa mengantisipasi kalau memang terjadi apa-apa di jalan raya. Jadi akal sehat itu penting harus diperhatikan," ucapnya.

Kedua, jaga jarak. Pentingnya jaga jarak, kata Sony, adalah bahwa kita memiliki ruang untuk mengantisipasi kalau terjadi sesuatu. "Sehingga kalau kita punya ruang kita bisa melakukan cara berpikir, cara mengantisipasi dengan sehat," ucapnya.

"Ketiga, jaga kecepatan. Kalau sudah menentukan kecepatan tinggi ya pasti fatal. Kalau kecepatan rendah ya paling cuma penyok-penyok sedikit. Jadi tiga hal itu memastikan bahwa kita meminimalkan risiko kecelakaan," sebutnya.

Sony menyebut, saat disopiri orang lain pemilik mobil yang disetiri itu juga harus melakukan manajemen perjalanan dengan benar. Tentukan lokasi istirahat sepanjang perjalanan. Hal ini untuk mencegah sopir kelelahan yang berakibat fatal.

"Dia memang harus melakukan journey management secara benar. Ini penting di awalnya. Journey management ini disampaikan kepada penumpang-penumpangnya, di mana dia akan istirahat, di mana dia solat, makan dan sebagainya. Itu penting sehingga disepakati bersama di dalam kabin itu, nggak ada yang boleh satu sama lain saling ego. Karena kalau penngemudi dipaksa dia akan siap-siap aja, tapi si bosnya kan nggak tahu dia bukan robot," jelas Sony.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:PON, Olympic, DKI Jakarta
wwwwww