Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
9 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
10 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
11 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
11 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
11 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Optimalisasi Layanan
Ekonomi
7 jam yang lalu
Bank Jakarta Perkuat Tata Kelola dan Optimalisasi Layanan
Home  /  Berita  /  Voli

Pak Jokowi, Hasil Survei 61,9 Persen Masyarakat Tak Ingin Pindah Ibu Kota, Gimana Nih?

Pak Jokowi, Hasil Survei 61,9 Persen Masyarakat Tak Ingin Pindah Ibu Kota, Gimana Nih?
Jokowi saat meninjau lahan untuk pemindahan ibu kota baru. (Foto: Istimewa)
Rabu, 05 Januari 2022 17:12 WIB

JAKARTA - Lembaga survei Kedai Kopi merilis hasil survei terbaru mengenai ibu kota baru. Ternyata, Ada 61,9 persen masyarakat yang tak ingin pindah ibu kota.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Kedai Kopi Kunto Adi Wibowo memberi tanggapan terkait studi banding Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) ke Kazakhstan.

Ada pun studi banding yang diikuti juga oleh Bappenas dan anggota DPR tersebut untuk mempelajari negara-negara yang pernah memindahkan ibu kota agar bisa diterapkan di Indonesia. "Kalau dari hasil survei yang kami lakukan pada November kemarin, yang tidak setuju pemindahan ibu kota baru itu ada 61,9 persen," ujar Kunto Adi dilansir dari GenPI.co, Selasa (4/1/2022).

Menurutnya, para responden tidak menyetujui pemindahan ibu kota ke tempat baru. Hal tersebut dikarenakan keuangan negara yang dirasa belum memumpuni untuk melakukan pemindahan. "Yang tidak setuju ini beralasan bawa pemindahan ibu kota ini menjadi pemborosan anggaran. Jadi, hal ini bisa merusak sentimen publik terjadap pemerintah kalau dipaksakan," katanya.

Tidak hanya terkait legislasi, namun menurut Kunto, rusaknya sentimen masyarakat juga sudah masuk sejak perencanannya dimulai. Sebab, anggaran negara dianggap tak boleh disia-siakan.

"Jadi, menurut saya, ini adalah bentuk ketidaksensitifan pemerintah terhadap krisis yang sudah diarasakan oleh warga terutama krisis terkait pandemi Covid-19,' ujar Kunto.

Di sisi lain, Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie pemindahan ibu kota memang baik untuk Indonesia ke depannya. Dirinya juga mengaku sempat mendorong adanya pemisahan kota pemerintahan dengan kota yang memegang kendali perekonomian.

Contohnya seperti New York dan Washington DC di Amerika Serikat. "Memang Jakarta sudah tak layak khususnya karena polusi, banjir, dan kepadatan penduduk. Jadi ini bisa jadi grand design untuk pemerintahan yang akan datang," tandasnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww