Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
15 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
15 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
16 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
17 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
17 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
8 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Home  /  Berita  /  Nasional

Anggota DPR: Butuh Perubahan Perilaku Masyarakat untuk Beralih ke Endemi

Anggota DPR: Butuh Perubahan Perilaku Masyarakat untuk Beralih ke Endemi
Ilustrasi protokol kesehatan berupa jaga jarak fisik di dalam bioskop. (foto: ist./freepik)
Jum'at, 04 Maret 2022 11:16 WIB
JAKARTA - Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Rahmad Handoyo menekankan bahwa perubahan pandemi ke endemi butuh perubahan perilaku masyarakat, tidak hanya berdasar capaian vaksinasi yang tinggi.

"Masalahnya, banyak negara yang capaian vaksinasinya sudah tinggi, fatalitas rate-nya juga masih tinggi," kata Rahmad sebagaimana dikutip GoNEWS.co dari Antara, Jumat (4/3/2022).

Adapun perubahan perilaku masyarakat yang dimaksud adalah implementasi protokol kesehatan dengan optimal.

"Kalau vaksinasinya sudah bagus, kemudian protokol kesehatan tetap berjalan, saya kira untuk menuju endemi itu masih bisa. Akan tetapi, kalau saat ini menurut saya belum memungkinkan. Namun, bolehlah untuk wacana itu," ujarnya.

Sebagai informasi, data Kementerian Kesehatan hingga Kamis (3/3) pukul 18.00 WIB menyebut, sebanyak 146.305.278 orang di Indonesia sudah menerima vaksin dosis kedua atau setara 70,25 persen penduduk.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Nasional, Kriminal, DKI Jakarta
wwwwww