Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
11 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
11 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
12 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
13 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
13 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
19 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Komisi VII DPR RI Minta Produksi Baterai Pertama IBC Harus Fokus Pada Pasar Ekspor

Komisi VII DPR RI Minta Produksi Baterai Pertama IBC Harus Fokus Pada Pasar Ekspor
Ilustrasi Baterai Kendaraan Listrik atau Electric Vehicle (EV). (Foto: Istimewa)
Selasa, 20 September 2022 16:28 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Komisi VII DPR RI mendesak Direktur MIND ID dan Dirut PT Antam termasuk Dirut Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk menyusun road map pengembangan Baterai Kendaraan Listrik atau Electric Vehicle (EV) yang lebih terukur dengan menyusun target prioritas yang ingin dicapai.

Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komodo VII DPR bersama Dirut MIND dan Dirut Antam di Gedung Nusantara I Parlemen Senayan, Senin, (19/9/2022).

Anggota Komisi VII DPR RI Mukhtarudin mengatakan bahwa untuk menciptakan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia merupakan tanggung jawab bersama.

"Artinya, ekosistem kita dalam negeri harus siap. Ini tentu pekerjaan bersama bagaimana strateginya," tutu Mukhtarudin saat dihubungi Wartawan.

Dalam RDP tersebut Komisi VII DPR RI juga mendesak agar skema kerjasama dengan pihak asing seperti pihak asing seperti PT Ningbo Contemporary Btrunp Lygend Co, Ltd (CBL) dan LG Energy Solution (LGES) dalam pengembangan proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi.

Skema tersebut penting harus dikaji secara mendalam agar tidak merugikan BUMN pertambangan tanah air.

Selain itu, Komisi VII juga meminta agar konsep pengembangan IBC tidak berfokus pada produksi baterai kendaraan listrik untuk pemenuhan di dalam negeri tetapi juga diperuntukkan untuk pasar ekspor.

Politisi Golkar Dapil Kalimantan Tengah ini bilang pasar luar negeri dalam hal ini menginginkan produk baterai kendaraan listrik yang berkualitas.

"Oleh karena itu, yang menjadi konsen dari IBC yaitu dalam memproduksi baterai ya. Karena selain akan dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri, yang penting juga harus diekspor," pungkas Mukhtarudin.***

wwwwww