Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
16 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
8 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
10 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
4
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
4 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
5
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
6 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
6
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Umum
10 jam yang lalu
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Home  /  Berita  /  Non Olympic

IBUL, Akhirnya Pilih KLB

IBUL, Akhirnya Pilih KLB
Dali Tahir. (tengah_
Minggu, 30 Oktober 2022 13:27 WIB
Penulis: Azhari Nasution
TEPUK-SORAK, pasti terjadi di kubu pendukung Kongres Luar Biasa (KLB). Muhammad Iriawan atau akrab disapa Iwan Bule (Ibul), akhirnya bersedia mengikuti desakan untuk melakukan KLB.

Keputusan tersebut diambil setelah rapat Esko di Kantor PSSI, GBK Arena, Senayan, Jakarta, Jumat (28/10/2022) malam. Meski secara resmi hanya dua klub yang bersurat ke PSSI yakni Persis Solo dan Persebaya, Ibul memastikan pihaknya siap melakukan KLB.

Menurut pasal 34 statuta PSSI, untuk menuju KLB, dibutuhkan lima tahap. Pertama, 2/3 dari 88 pemilik suara, harus setuju. Kedua, adanya permintaan dari Esko. Selain itu, dibutuhkan waktu paling cepat tiga bulan sejak diajukan. Di samping itu, apa-apa yang akan dilakukan dituliskan dalam permintaan.

KLB harus dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah diterimanya permintaan. Jika PSSI tidak juga menggelar KLB, maka anggota yang memintanya dapat mengadakan kongres sendiri. Sebagai upaya terakhir.

Untuk melancarkan semua, anggota bisa meminta bantuan AFC dan FIFA.
Anggota PSSI harus diberitahukan mengenai tempat, tanggal serta agenda sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal diadakannya Kongres Luar Biasa.

Hindari Keretakan
"Saya tidak ingin timbul keretakan di bawah. Saya menghindari perpecahan, " kata Ibul pada saya beberapa saat setelah rapat esko. "Selain itu, saya juga tidak ingin ratusan ribu orang yang terlibat dalam sepakbola, tersandera," kata Komjen Pol purnawirawan itu yang membuat saya tersekat.

Kita tahu, salah satu keputusan Tim Gabungan Investigari Pencari Fakta (TGIPF) menyebutkan, pemerintah tidak akan mengizinkan Kompetisi Liga-1 berjalan sebelum pengurus PSSI mundur. Itu sebabnya, jika kompetisi tidak jalan, maka ratusan ribu tenaga kerja akan terhenti. Perputaran uang puluhan miliar rupiah juga akan terhenti.

Selain pemain, pelatih, ofisial, dan penonton, dalam lingkup kompetisi pergerakan keekonomian demikian dahsyat. Nah, jika kompetisi terhenti, maka pengangguran akan bertambah.

"Terbayang betapa para tukang parkir, tukang asongan, pengemudi ojek, angkutan kota, tukang-tukang lainnya akan kehilangan mata pencaharian," katanya lagi.

Menurut Ibul, tidak sedikit pun dia ingin mempertahankan kedudukannya. "Tidak ada yang abadi. Jangankan jabatan, nyawa kita pun tak bisa kita pertahankan. Jika waktunya telah tiba, kita pun akan dijemput kematian," tutur Ibul.

Sementara itu, rasa duka dan rasa hormat Ibul kepada para korban, tidak akan pernah berkurang sedikit pun. "Sungguh, ini menjadi satu pengalaman yang tak akan pernah bisa saya tanggalkan," ujar Ketum PSSI yang sesungguhnya akan berakhir jabatannya tahun depan.

PSSI sendiri sudah mengirimkan surat permohonan B ke FIFA. Dalam surat tersebut disebut bahwa surat resmi permintaan KLB baru dua, tapi tekanan untuk KLB dari banyak pihak begitu besar. Dan disebutkan pula, tekanan untuk KLB disebabkan oleh salah satu butir keputusan TGIPF bentukan pemerintah.

Sebagai anggota FIFA, PSSI bermohon agar induk federasi sepakbola dunia itu mengizinkan terselenggaranya KLB. Model desakan seperti ini bukan yang pertama kali. Ali Sadikin, dikudeta. Lalu, Nurdin Halid didemo, tidak tanggung-tanggung 11 bulan, 2010-2011. Demo yang jelas-jelas dikoordinir.

Bus-bus pariwisata, bus-bus antar kota, berpuluh terparkir di Parkir Timur, GBK Senayan Jakarta. Bahkan, mereka menginap bermalam-malam. Makanan kotak, bertumpuk, over supply. Lucunya, ada pendemo yang memgeluarkan amplop seragam dengan uang lembaran ratusan ribu, masih baru. Mereka mengatasnamakan kepentingan sepakbola, padahal jelas ada yang membiayai.

Kesal karena NH tidak jatuh juga, mereka mendirikan PSSI tandingan. Membuat kompetisi tandingan. Saat itu, saya betul-betul geram. Mereka sepertinya berharap PSSI di banned oleh FIFA.

Tidak hanya itu, kongres di Pekan Baru, Riau pun mereka serbu. Wakil FIFA terpaksa dilarikan ke Singapura.

Ujungnya, calon mereka bersama Nurdin dilarang maju oleh FIFA. Namun akhirnya kelompok itu menang. Sedihnya, PSSI tidak juga bisa bangkit.

Saya tidak ingin menuding saat ini sama dengan 2010-2011. Tapi, sebagai orang tua yang selama 40 tahun berkecimpung di sepakbola dalam negeri dan luar negeri, hanya mengingatkan PSSI pernah mengalami hal seperti itu.

Jika memakai pepatah lama: “Keledai saja tak jatuh di lubang yang sama sampai dua kali”. Artinya, sebodoh-bodohnya orang, ia tak akan mengulang kesalahan sebelumnya.

Mohon maaf jika tidak berkenan. Semoga sepakbola Indonesia bisa tetap berjalan. Aamiin...

Penulis :

Dali Tahir

Mantan anggota Esko AFC

Mantan anggota Kokite Etik FIFA

Ketua Tim Penyusun Statuta PSSI

Pendiri Liga Galatama. ***

wwwwww