Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
12 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
14 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
3
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
9 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
4
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
22 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
5
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
KOI
7 jam yang lalu
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
6
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
KOI
7 jam yang lalu
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Rupiah Digital Garuda Segera Meluncur, Bagaimana Nasib Uang Kertas? Ini Kata BI

Rupiah Digital Garuda Segera Meluncur, Bagaimana Nasib Uang Kertas? Ini Kata BI
Ilustrasi uang kertas rupiah. (Foto: Istimewa)
Senin, 05 Desember 2022 12:45 WIB

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) sedang menggarap Proyek Garuda. Proyek ini adalah white paper terkait pengembangan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau Rupiah Digital.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pada prinsipnya Rupiah Digital sama dengan alat pembayaran lainnya. Lantas bila Rupiah Digital terbit, bagaimana nasib uang kartal atau uang fisik?

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, tujuan pemerintah menerbitkan Rupiah Digital salah satunya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dari sisi demografi, masyarakat punya kebiasaan berbeda dalam memilih cara transaksi.

"Masyarakat kita secara demografi ada yang masih ingin menggunakan alat pembayaran kertas. Ada yang masih ingin menggunakan alat pembayaran berbasis rekening. Tapi anak-anak, cucu-cucu kita itu memerlukan pembayaran digital," katanya dalam acara BIRAMA Talkshow "Meniti Jalan Menuju Digital Rupiah" di Kantor BI, Jakarta Pusat, Senin (5/12/2022).

Terkait nasib uang fisik saat terbitnya Rupiah Digital, Asisten Gubernur Bank Indonesia/Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Filianingsih Hendarta menegaskan bahwa uang fisik akan tetap ada. "Ini (uang fisik) akan tetap ada. Tetapi kami menyediakan tadi, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," ungkapnya.

Sama seperti Perry, ia menilai masyarakat punya cara berbeda dalam bertransaksi. Kaum millenial cenderung menggunakan uang digital, sementara non-millenial cenderung memakai uang fisik. Dalam hal ini, BI berusaha memenuhi kebutuhan keduanya.

"Ibu-ibu kalau di dompetnya Rp 50 ribu, dia bergegas ke ATM. Itu behaviour. BI sebagai otoritas menyediakan uang, kita memberikan opsi. Jadi yang mau pakai fisik silakan, mau digital silakan," ungkapnya.

Ia menambahkan, transaksi digital di Indonesia tidak hanya dimiliki kalangan menengah ke atas. Bahkan masyarakat berpenghasilan rendah sudah mengenal uang elektronik, maupun transaksi menggunakan QRIS.

Terkait kapan Rupiah Digital terbit, Filianingsih tidak bisa merinci. Namun ia berharap Rupiah Digital bisa terbit tidak terlalu lama. "Sesiapnya, mudah-mudahan tidak terlalu lama," pungkasnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Olympic, Ekonomi, Voli, DKI Jakarta
wwwwww