Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
KONI
23 jam yang lalu
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
2
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
KOI
23 jam yang lalu
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
3
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
11 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
4
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
10 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
5
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
5 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
6
KONI Pusat Ajak Kementerian/Lembaga Bersinergi Sukseskan PON Pantai 2026
KONI
23 jam yang lalu
KONI Pusat Ajak Kementerian/Lembaga Bersinergi Sukseskan PON Pantai 2026
Home  /  Berita  /  Nasional

Disebut 'Hobi Pungut Pajak', Ini Kata Menteri Keuangan Sri Mulyani

Disebut Hobi Pungut Pajak, Ini Kata Menteri Keuangan Sri Mulyani
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
Selasa, 24 Oktober 2023 07:17 WIB
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menekankan bahwa membayar pajak adalah kewajiban dan amanat undang-undang. Hal ini untuk menjawab nyinyiran masyarakat yang memiliki pandangan bahwa hobi Bendahara Negara memunguti pajak.

"Anda pikir menteri keuangan tuh hobinya memajaki? Nggak juga, itu bukan masalah hobi, itu konstitusi dan undang-undang. Semua konstitusi dan undang-undang itu dibahas dalam proses politik," kata Sri Mulyani dalam Kuliah Umum Universitas Diponegoro & Universitas Negeri Semarang yang dilihat virtual, Senin (23/10/2023).

Walaupun sudah diwajibkan, Sri Mulyani mengaku tidak gampang mengumpulkan pajak karena sudah pasti dimarahi. Tidak hanya dari wajib pajak, komplain juga datang dari kalangan mahasiswa yang mayoritas belum memiliki penghasilan.

"Udah diatur undang-undang aja banyak yang nggak berhasil dan tidak mampu untuk mengumpulkan pajak karena takut dimaki-maki. Belum masalah korupsi, kan kayak gitu," tuturnya.

Sri Mulyani memastikan bahwa pengumpulan pajak diterapkan berdasarkan prinsip keadilan dengan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) Rp 54 juta/tahun. Artinya orang miskin atau penghasilan di bawah Rp 4,5 juta/bulan bebas dari pajak.

Tarif pajak yang dikenakan juga berbeda-beda di mana orang kaya diwajibkan bayar pajak lebih besar. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pun dibebaskan dari barang-barang dan kebutuhan pokok.

"PPN kalian bilang 'ibu sadis banget si PPN jangan dong Bu. Barang-barang yang merupakan kebutuhan publik, pendidikan, jangan dipajaki', oke nggak saya pajaki. Jadi yang mana yang boleh? Yang senang-senang aja, ya, kita pajaki PPN," ucapnya.

"Ibu jangan sadis dong orang miskin kok dipajaki? Orang miskin nggak dipajaki, orang miskin itu nggak bayar pajak, hanya yang di atas PTKP. Kalau kalian pendapatannya Rp 5 miliar, bayar (pajaknya) 35%, sadis banget Bu, nggak juga sih. Kalau kalian pendapatannya Rp 10 juta nggak akan segitu," tambahnya. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:detik.com
Kategori:Nasional
wwwwww