Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Juara Tunggal Putra, Richie: Saya Terharu Dapat Gelar Pertama
Badminton
23 jam yang lalu
Juara Tunggal Putra, Richie: Saya Terharu Dapat Gelar Pertama
2
Raih Juara Ganda Putri, Isyana/Rinjani: Kuncinya Bermain Penuh Keyakinan
Badminton
23 jam yang lalu
Raih Juara Ganda Putri, Isyana/Rinjani: Kuncinya Bermain Penuh Keyakinan
3
Tekad Imanol Garcia Berjuang Ekstra Hadapi Persija Jakarta
Sepakbola
22 jam yang lalu
Tekad Imanol Garcia Berjuang Ekstra Hadapi Persija Jakarta
4
BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Cerah Berawan pada Hari Ini
Metropolitan
12 jam yang lalu
BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Cerah Berawan pada Hari Ini
5
Marcos Reina Tak Gentar Kekuatan Pasukan Shin Tae-yong
Sepakbola
22 jam yang lalu
Marcos Reina Tak Gentar Kekuatan Pasukan Shin Tae-yong
6
Oscar Bruzon Optimistis Bhayangkakra FC Mampu Jaga Momentum
Sepakbola
22 jam yang lalu
Oscar Bruzon Optimistis Bhayangkakra FC Mampu Jaga Momentum
Home  /  Berita  /  Badminton

Azas Tigor Ingin Gubernur Jakarta 2024-2029 Mampu Atasi Kemacetan

Azas Tigor Ingin Gubernur Jakarta 2024-2029 Mampu Atasi Kemacetan
Analis Kebijakan Transportasi, Azas Tigor Nainggolan (tengah). (Ist)
Senin, 02 September 2024 19:43 WIB
Penulis: Riyan
Kemacetan menjadi isu penting di Jakarta. Persoalan klasik ini masih menjadi momok dan pekerjaan rumah (PR) besar bagi siapapun pemimpin Jakarta.

Analis Kebijakan Transportasi, Azas Tigor Nainggolan menaruh harapan besar kepada bakal calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta periode 2024-2029 untuk dapat merumuskan dan mengimplementasikan upaya mengatasi kemacetan di Jakarta.

 
"Jakarta macet dikarenakan tingginya penggunaan kendaraan pribadi. Tingginya penggunaan kendaraan bermotor pribadi di Jakarta dikarenakan masih kurang nyamannya akses menuju ke layanan angkutan umum," ujarnya, melalui keterangan tertulis, Senin (2/9).
 
Tigor menjelaskan, kondisi kurang akses ini disebabkan oleh layanan transportasi publik massal di Jakarta masih belum diintegrasikan layanannya secara baik. 
 
"Kerugian akibat kemacetan Jakarta hingga saat ini setidaknya mencapai Rp 180 triliun per tahunnya. Angka ini sangat tinggi dan menjadi kerugian dan biaya yang sangat mahal karena kemacetan Jakarta," terangnya.
 
Menurutnya, diperlukan langkah untuk memecahkan masalah kemacetan Jakarta yang menjadi bagian integral dari bidang transportasi melalui program dan kebijakan Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta periode 2024-2029.
 
"Langkah penting memecahkan kemacetan adalah dengan mengajak pengguna kendaraan bermotor pribadi mau berpindah menjadi pengguna transportasi umum," ungkapnya.
 
Ia menambahkan, pendekatan kebijakan solutif perlu dilakukan untuk membatasi ruang penggunaan kendaraan bermotor pribadi, tetapi memudahkan akses mendapatkan layanan transportasi publik massal di Jakarta.   
 
Langkah pertama, mempersulit pengguna menggunakan kendaraan bermotor pribadinya bisa dilakukan dengan menerapkan kebijakan Manajemen Parkir baru. Jakarta memerlukan manajemen parkir mahal dan dibatasi ruang parkirnya bagi kendaraan bermotor pribadi. 
 
Kedua, membatasi ruang gerak kendaraan bermotor pribadi dengan kebijakan membatasi ruang jalan untuk kendaraan bermotor pribadi dan membuat biaya mahal menggunakan kendaraan pribadi dengan jalan berbayar elektronik serta mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM). 
 
"Kedua langkah di atas berdasarkan pengalaman kota-kota di negara lain dapat menekan dan menyulitkan penggunaan kendaraan bermotor pribadi di Jakarta," bebernya.
 
Pendekatan lainnya, imbuh Tigor, juga secara paralel dilakukan langkah membuat masyarakat mudah mengakses layanan transportasi publik massal di Jakarta. 
 
Pertama, membangun integrasi layanan transportasi publik massal di Jakarta agar masyarakat mudah mengakses layanannya. 
 
Kemudian, memberikan subsidi kepada semua pengguna layanan transportasi publik di Jakarta. Pemberian subsidi itu insentif agar masyarakat pengguna angkutan massal siapa pun dia. 
 
Tekanan untuk memecahkan kemacetan Jakarta adalah untuk menekan pemilik dan pengguna kendaraan bermotor pribadi agar mau berpindah menjadi pengguna layanan transportasi publik massal. 
 
Perpindahan ini dilakukan agar terjadi penurunan signifikan penggunaan kendaraan bermotor pribadi baik mobil pribadi maupun sepeda motor. 
 
Selanjutnya, para pengguna kendaraan bermotor pribadi ini dapat mudah mengakses layanan transportasi publik massal karena terdapat integrasi layanan dan ada subsidi yang cukup agar menjadi insentif sebagai pengguna layanan transportasi publik. 
 
"Jadi, prinsip pemberian subsidi angkutan umum ini adalah bukan hanya bagi orang tidak mampu tetapi adalah untuk siapa pun dia, baik dia orang mampu karena memiliki kendaraan pribadi sekalipun," tegasnya.
 
Tigor mengungkapkan, belakangan ini berkembang bahwa akan dilakukan penerapan pemberian subsidi berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) kepada pengguna layanan kereta listrik (KRL) Jabodetabek. 
 
Alasannya, agar subsidi diberikan kepada orang yang tepat dalam hal ini adalah orang tidak mampu atau miskin saja. Data dalam NIK itu mencerminkan kondisi siapa pemilik NIK tersebut. 
 
Melalui NIK akan terbaca siapa dan bagaimana kondisi ekonomi atau kehidupan si pemilik NIK. Berarti jika dia NIK orang mampu, ketika dia menggunakan layanan KRL dia harus membayar tarif tanpa ada subsidi.  
 
Penerapan pemberian subsidi layanan transportasi publik KRL Jabodetabek berdasarkan NIK ini jelas bertentangan dengan prinsip misi untuk memindahkan pengguna kendaraan bermotor pribadi menjadi pengguna layanan transportasi publik massal di Jakarta. 
 
Sebab, yang menjadi sumber pengguna kendaraan bermotor pribadi adalah orang mampu yang bisa membeli atau pemilik mobil pribadi atau sepeda motor yang terekam dalam data di NIK mereka. Padahal sebagai pengguna layanan transportasi publik mereka berhak mendapatkan subsidi sebagai insentif. 
 
Mereka berhak mendapatkan insentif atau subsidi karena mereka sudah menggunakan layanan transportasi publik dan mengurangi kemacetan dengan meninggalkan kendaraan bermotor pribadinya di rumah.
 
Untuk itu, sebaiknya pemerintah tidak menerapkan pemberian subsidi berdasarkan NIK kepada pengguna layanan transportasi publik massal KRL Jabodetabek. Sehingga, bisa berdampak berkurang atau menurunnya pengguna kendaraan bermotor pribadi dan bertambah meningkatkannya pengguna layanan transportasi publik massal di Jakarta. 
 
"Hasilnya adalah kita bisa mengurai dan memecahkan kemacetan Jakarta," tuturnya.
 
Tigor mengajak, dalam momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta tahun 2024, warga dapat memilih calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang memiliki komitmen dan keberpihakan pada pembangunan layanan transportasi publik massal yang baik.
 
"Layanan transportasi publik di Jakarta harus memiliki aksesibilitas yang tinggi," pungkasnya.***
 

Editor:Azhari Nasution
Kategori:Badminton, DKI Jakarta
wwwwww