Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Juara Tunggal Putra, Richie: Saya Terharu Dapat Gelar Pertama
Badminton
19 jam yang lalu
Juara Tunggal Putra, Richie: Saya Terharu Dapat Gelar Pertama
2
Raih Juara Ganda Putri, Isyana/Rinjani: Kuncinya Bermain Penuh Keyakinan
Badminton
20 jam yang lalu
Raih Juara Ganda Putri, Isyana/Rinjani: Kuncinya Bermain Penuh Keyakinan
3
Tekad Imanol Garcia Berjuang Ekstra Hadapi Persija Jakarta
Sepakbola
18 jam yang lalu
Tekad Imanol Garcia Berjuang Ekstra Hadapi Persija Jakarta
4
Marcos Reina Tak Gentar Kekuatan Pasukan Shin Tae-yong
Sepakbola
18 jam yang lalu
Marcos Reina Tak Gentar Kekuatan Pasukan Shin Tae-yong
5
Oscar Bruzon Optimistis Bhayangkakra FC Mampu Jaga Momentum
Sepakbola
18 jam yang lalu
Oscar Bruzon Optimistis Bhayangkakra FC Mampu Jaga Momentum
6
Raih Gelar Ganda Putra Bersama Daniel, Rian: Sangat Senang Bisa Bawa Junior Juara
Badminton
18 jam yang lalu
Raih Gelar Ganda Putra Bersama Daniel, Rian: Sangat Senang Bisa Bawa Junior Juara
Home  /  Berita  /  Hiburan

Film "Dul Muluk Dul Malik" Sukses Promosikan Budaya Sumatera Selatan

Film Dul Muluk Dul Malik Sukses Promosikan Budaya Sumatera Selatan
Dewi Motik dan Anwar Fuady pada acara nonton Film Dul Muluk Dul Malik. (Ist)
Sabtu, 21 September 2024 16:29 WIB
Penulis: Mambang Yazid
JAKARTA - Sejak tayang perdana pada 12 September 2024, film "Dul Muluk Dul Malik" berhasil mencuri perhatian masyarakat. Film bergenre komedi horor ini sukses mengundang antusiasme para penonton, termasuk banyak yang mengadakan acara nonton bareng (nobar).

Salah satu kelompok yang menggelar nobar adalah Persatuan Wanita Palembang Sumatera Selatan (PWPSS) yang dipimpin oleh Wiwiet Tatung. Pada Rabu (18/9/2024) lalu, para anggota PWPSS yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu asal Sumatera Selatan memenuhi bioskop XXI Blok M Plaza, Jakarta Selatan, untuk menyaksikan film ini.

Acara nobar tersebut turut dihadiri oleh sejumlah pejabat, selebritas, hingga para pemain film. Beberapa di antaranya adalah Anwar Fuady, Meriam Bellina, Roy Marten, Dwi Yan, Bagas Ran, Aty Cancer, serta produser Yakup Chandra dan Aditya Gumay.

Kehadiran pesohor lainnya seperti Deddy Mizwar, Dewi Motik, dan pengacara Henry Yosodiningrat menambah kemeriahan acara.

Film "Dul Muluk Dul Malik" menceritakan kisah Dul Muluk (diperankan oleh Anwar Fuady) yang membawa cucunya, Dul Malik (Bagas Ran), pindah dari Pagaralam ke Palembang untuk membantu keponakannya, Nong Cik (Meriam Bellina), menghadapi hantu yang meneror rumah mereka.

Selain suguhan adegan horor, film ini juga penuh dengan humor yang membuat penonton tertawa di sela-sela ketegangan.

Tak hanya menghibur, film ini juga mengangkat isu sosial, seperti perundungan (bullying). Kisah Dul Malik yang menjadi korban bullying di sekolah barunya di Palembang memberikan pesan moral penting, terutama terkait dampak negatif perundungan di kalangan pelajar.

Salah satu keunikan dari "Dul Muluk Dul Malik" adalah penggunaan dialog dalam bahasa daerah Sumatera Selatan. Meskipun banyak penonton berasal dari daerah tersebut, sebagian mengaku baru menyadari bahwa film ini menggunakan dialek Sumsel, mengingat terdapat sekitar 70 bahasa lokal di provinsi tersebut.

Apresiasi tinggi datang dari berbagai kalangan yang hadir. Henry Yosodiningrat, yang dikenal sebagai sosok serius, tak ragu menunjukkan senyum dan tawa saat menyaksikan film ini. Ia mengungkapkan dukungannya terhadap film "Dul Muluk Dul Malik" dan berharap semakin banyak film berbahasa daerah lainnya diproduksi.

Pengusaha Dewi Motik juga memberikan pujian atas film ini, berharap agar film tersebut dapat diputar lebih lama di jaringan bioskop XXI. Ia melihat film ini sebagai sumber inspirasi bagi daerah lain untuk mengangkat cerita rakyat setempat ke layar lebar, sehingga perfilman nasional semakin kaya dengan budaya lokal.

Anwar Fuady, yang juga menjadi salah satu produser, berharap agar film-film berbahasa daerah semakin sering diangkat, untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia yang luas. Wiwiet Tatung, sebagai pengusaha batu bara dan orang Sumatera Selatan, merasa bangga dengan film ini.

Anwar Fuady mengajak masyarakat Sumsel untuk turut menyaksikan dan mendukung film pertama berbahasa Sumsel ini, yang tak hanya menghibur, tetapi juga mendidik penonton tentang pentingnya menghargai sesama.

Film berdurasi 99 menit ini berhasil menyajikan tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan mengangkat kebanggaan budaya Sumatera Selatan ke kancah nasional. ***

wwwwww