Indonesia Nggak Punya Duta Olah Raga
![]() |
| Ary Sudarsono dan Erwiyantoro. (Ist) |
Penulis: Azhari Nasution
KETIKA Ary Sudarsono yang seolah-olah betah leyeh-leyeh di markas jurnalis veteran di Kandang Ayam, berpesan dalam obrolan ngalor-ngidul, bareng mBah Coco. Ujug-ujug nyeletuk, bahwa dirinya merasa prihatin dengan kondisi suasana social dan budaya di republic “mbelgedes” ini.
“Kita kehabisan dan kehilangan jati diri dalam olah raga di pergaulan internasional, dan di dalam negeri. Karena, nggak ada olahragawan yang bisa dicontoh, dan dijadikan duta olah raga,” tutur Ary Sudarsono, legenda basket.
“Coba lihat saja, siapa para juara di Indonesia, yang saat ini, bisa dijadikan kiblat atau magnit bagi para remaja?” Tanya Arsud,, nama panggilan akrabnya.
Di bulutangkis, sejak jaman Ferry Sonnevillle, Tan Yoe Hok, Rudi Hartono, Christian Hadinata, Liem Swie King, Haryanto Arby, Taufik Hidayat, hingga Jonathan “Jojo” Christie atau Anthony Sinisuka Ginting, bahkan Alan Budikusuma dan Susi Susanti, sudah dilupakan dan tidak diberi peran, sebagai duta olah raga Indonesia?
Di sepak bola, sejak jaman Maulwi Saelan, Andi Ramang, Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris, Ronny Pattinasarany, Anjas Asmara, Risdianto, Hadi Ismanto, Bambang Nurdisnyah, Ricky Yacoby, Ferril Hattu, Fachry Husaini, Widodo Cahyono Putra, Bambang Pamungkas, Boaz Sollosa, Evan Dimas Damono, tidak ada yang peduli, bahwa salah satu dari mereka dicetak sebagai duta olah raga?
Soekarno, sebagai Presiden RI pertama, dengan gagah berani melawan kolonial, untuk melawan negara-negara barat, dengan membangun kawasan Senayan, sebagai kawah candradimuka-nya mencetak atlet-atlet berbakat dan mengharumkan nama bangsa dan negara, terkesan menurut Ary Sudarsono, hanya sebatas monumen.
Kini para stakeholeder seolah-olah peduli. Namun aslinya semuanya munafik, feodal, dan tidak paham filosofi pendiri bangsa mencetak kawasan “mercu suar’ olah raga di Indonesia. Cita-cita Soekarno, sampai hari ini belum disentuh. Bahwa, ada lembaga tunggal kementrian yang membawahi olah raga, masih meniscayakan olah raga yang absurd, di jaman rezim Prabowo Subianto.
Perjuangan Soekarno, sampai hari ini, tidak ada yang peduli. Tengok saja sejarahnya, Soekarno sebagai provokator ulung, “mencubit” dan mempermalukan negara-negara liberal blok barat, yang mencetak wadah event dunia – Olimpiade. Justru, mampu dilawan Soekarno, dengan menggelar GANEFO. Tujuan utama menggelar GANEFO, mempromosikan gerakan antikolonial, dan gagasan Konferensi Asia-Afrika, 1955.
GANEFO adalah singkatan dari Games of the New Emerging Forces, yang merupakan pesta olah raga yang didirkan oleh bangsa Indonesia, yaitu Ir. Soekarno, sebagai tandingan Olimpiade. GANEFO pertama digelar pertama kalinya di kawasan Senayan, yang diikuti 51 negara dari Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Latin.
Dari berbagai sumber yang disadur mBah Coco, sejarah lahirnya GANEFO, berawal dari kecaman Internationl Olympic Committee (IOC), atau Badan penyelenggara Olimpiade Olahraga Antarbangsa. Dari sudut pandang IOC, olah raga tidak bisa dicampuradukan dengan politik. Namun, Soekarno yang bernyali untuk darah daging bangsa ini, berpandangan terbalik. Gagasan IOC ditentang habis-habisan.
Apalagi, saat IOC mengecam event Asian Games IV, yang digelar di Jakarta, tahun 1962, menolak kehadiran Taiwan dan Israel, dalam pesta olahragawan terakbar di Asia. Menteri Olahraga Indonesia, saat itu, Maladi dalam pidatonya di Ekawarsa GANEGO, menyangkal pandangan IOC.
Gara-gara Soekarno, dan Menteri Olahraganya, Maladi punya sikap dan bernyali menghadapi IOC, bahwa olah raga tidak bisa dipisahkan dengan politik, adalah prinsip yang wajib dimiliki bangsa Indonesia. Sebelum Indonesia dibekukan IOC.
Dalam suasana murka dan menantang IOC, saat Konferensi Besar Front National, 13 Februari 1963, Soekarno memerintahkan Maladi, untuk segera keluar dari IOC. Sikap Indonesia terhadap IOC, diulang oleh Soekarno, saat pidato persiapan GANEFO, 27 April 2963, di Hotel Indonesia.
Dari sikap Soekarno, Indonesia menjadi besar dan raksasa, sebagai negara yang baru merdeka. Yaitu, berani menantang dan melawan blok Barat, yang diprakasai Amerika Serikat dan Eropa.
“Sampai hari ini, tidak ada manusia-manusia olahragawan yang memberi pencerahan kepada para remaja generasi Z atau generasi Alpha, apa arti bagi masyarakat dalam berolahraga? Tanya Ary Sudarsono.
Dalam 20 tahun terakhir ini, jika melihat jejak Indonesia kosong dalam membentuk duta olah raga, ketika ada Chef de Misson, atau Ketua Rombongan Olahragawan ke event-event Internasional, lebih dominan bukan mantan atlet. Di Olimpiade Paris 2024, mosok Anindya Bakrie yang dikasih posisi Chef de Mission. Di Olimpiade Jepang 2022, juga Roslan Roeslani.
Siapa Anindya dan Roslan di dunia olah raga? Nggak paham olah raga, dan tidak pernah menjadi “virus” olah raga dan tak punya minat olah raga, justru dijadikan pemimpin rombongan. Lihat saja, semua kepala rombongan dari negara-negara maju, pasti yang disuruh jadi pemimpin rombongan, dipastikan mantan atlet yang prestasi selangit, dan biasa meraih medali emas. Bahkan, PON XXI Sumut – Aceh, duta olahraganya Raffi Ahmad. Aneh, bukan?
Jadi apa saja sih, syarat-syaratnya menjadi duta olah raga di Indonesia? Tanya mBah Coco, kepada Ary Sudarsono.
Yang terjun ke masyarakat, harus mantan atlet yang pernah meraih gelar juara di level internasional. Pernah membawa bendera putih berkibar, dan juga mendengungkan lagu Indonesia Raya.
“Sampai hari ini, mana ada mantan atlet, yang ditugaskan oleh negara dan punya inisiatif terjun ke masyarakat?” Tanya Arsud. “Kita hanya pernah juara, tapi bukan real the champions,” lanjutnya.
Yang dimaksud Ary Sudarsono, coba diterjemahkan mBah Coco. Bahwa, para atlet setelah meraih gelar juara dan medali emas, dapat bonus. Tidak ada sumbangsih dari para atlet peraih medali di kancah internasional. Dan, dampaknya, sangat kecil di lingkungan masyarakat.
Bangsa ini, terkesan doyan gembar-gembor, bahwa Sumber Daya Manusia (SDM), segera dilakukan perbaikan. Dan, setelah ada event sebagai tuan rumah, dampaknya tidak ada sama sekali.
Lihat saja, setelah menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Apa ada dampaknya di masyarakat? Tuan rumah Piala Dunia U-17 tahun 2023, tidak ditularkan? PON KeXXI Sumut – Aceh, malahan yang terkuak, hanya masalah kesemrawutan dan korupsi. Bahkan, banyak bangunan fisik juga terbengkelai tak diurus, setelah jadi tuan rumah event olah raga nasional dan internasional.
Dari semua lapisan di luar olah raga. Misalkan seni, budaya atau masalah apa saja yang ada di lingkungan masyarakat. Apa ada sportifitas? Apa ada sportmenship? Apa ada fair play? Apa ada rules of games? Apa ada fair play? Apa ada kejujuran?
“Semua yang saya sebutkan di atas, hanya ada di olah raga, cing!”
Banyak sekali slogan-slogan yang dihembuskan, hanya di bibir para stakeholder di negeri ini. Nyatanya, nggak ada maknanya. “Apa artinya olah raga di masyarakat, bagaimana cara menularkan olah raga? Sehat secara fisik itu apa? Tapi mind set-nya tidak ditularkan. Padahal ini, harus ditularkan terus menerus, tidak pernah berhenti, sepanjang negeri ini ada,” lanjut Arsud.
Ary Sudarsono, memberi referensi, ketika anak-anak muda Amerika Serikat sedang bobrok dan tersesat karena Narkoba, tahun 1963, Presiden Amrik, John F. Kennedy, membuat tagline agar warga Amrik cinta olah raga. Yaitu, membuat gerakan “getuk tular” – dengan besar raksasa “Olah Raga Untuk Bangsa.”
Napas gerakan olah raga, kembali didengungkan di jaman Bill Clinton, ketika menyambut negerinya sebagai tuan rumah Olimpiade Atlanta 1996. Mottonya – Its Stars with The a Dream. Artinya, “Mulailah dari Mimpi.”
Negeri sekaliber super power, masih memiliki niat dan komitmen membangun banagsanya, dengan olah raga. Ini wajb dicontoh, kata Ary Sudarsono. Baca saja, saat Jerman, menyongsong negerinya sebagai tuan rumah Olimpiade 1936, Adolf Hitler, mampu mempertonkan negerinya sebagai “Bangsa Arya”, untuk mengangkat harkat dan martabat sebuah bangsa dan negara.
Ary Sudarsono, merasa prihatin, melihat negerinya sendiri, dalam membangun olah raga.
Bung Karno berpesan, “Jadikan olah raga sebagai pilar, bukan sekadar hobi. Tapi, harus diwajibkan di semua sekolah di pelosok tanah Air,” tutut Arsud.
Ary Sudarsono, berharap Prabowo Subianto, sebagai Presiden RI ke-8, membuat statement, bahwa para juara-juara event internasional, wajib menjadi juru bicara, wajib ditunjuk sebagai duta olah raga, sekaligus mencetak tagline “The national Sports Movement”.
Dan, negara wajib ikut campur
Ingat, olah raga, sama pentingnya dengan masalah-masalah lainnya, seperti kesenian, ekonomi, politik. “Jangan sampai kapan pun, masyarakat Indonesia, hanya bisa jadi penonton, tidak pernah mampu mengaktualitaskan dirinya. Habis nonton, habis jadi attlet, kelar. Nggak peduli dengan bangsa dan anak-anak bangsa berikutnya di kemudian hari.”
Itulah, uneg-uneg Ary Sudarsono, saat bertandang ke kampung “Kandang Ayam.”, sekaligus berpesan. Entah untuk siapa? Kalau bukan untuk kita semua…warga negeri tercinta, Indonesia Raya.
Penulis: Wartawan Senior, Erwiyantoro. ***
| Kategori | : | Non Olympic, Kemenpora, DKI Jakarta |













