Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Marciano Beri Semangat Atlet Balap Sepeda Raih Prestasi di Youth Olympic Games Dakar 2026
Olympic
22 jam yang lalu
Marciano Beri Semangat Atlet Balap Sepeda Raih Prestasi di Youth Olympic Games Dakar 2026
2
Mulyanto: Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat
MPR RI
23 jam yang lalu
Mulyanto: Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat
3
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
Sepakbola
22 jam yang lalu
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
4
Usman Husin Soroti Tarif Ferry Kupang-Rote, Khawatir Harga Sembako Ikut Naik
Nasional
23 jam yang lalu
Usman Husin Soroti Tarif Ferry Kupang-Rote, Khawatir Harga Sembako Ikut Naik
5
Bernando Tavares Ungkap Alasan Persebaya Lepas Gali Freitas
Sepakbola
23 jam yang lalu
Bernando Tavares Ungkap Alasan Persebaya Lepas Gali Freitas
6
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
9 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Home  /  Berita  /  Lingkungan

Industri Sawit Indonesia Hadapi Tantangan Standar Eropa di Tengah Lonjakan Ekspor

Industri Sawit Indonesia Hadapi Tantangan Standar Eropa di Tengah Lonjakan Ekspor
Ilustrasi pohon sawit (net)
Rabu, 23 Juli 2025 06:14 WIB

JAKARTA – Peningkatan ekspor produk sawit Indonesia ke Uni Eropa pada semester kedua 2025 bukan hanya membawa peluang, tetapi juga tantangan besar bagi industri sawit nasional. Kesepakatan dagang Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), yang rampung setelah negosiasi selama satu dekade, akan membuka pintu lebih lebar, namun diiringi dengan persyaratan ketat dari Uni Eropa terkait isu keberlanjutan.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, mengatakan bahwa sawit akan menjadi komoditas utama dalam implementasi perjanjian tersebut. "Sawit ini sudah terjadi kesepakatan, sehingga kita akan bisa mengekspor lebih banyak lagi ke sana," ujarnya, Selasa (22/7/2025).

Namun, ia menegaskan bahwa peningkatan ekspor harus diimbangi dengan kesiapan pelaku industri dalam memenuhi standar lingkungan dan ketertelusuran yang ditetapkan oleh Uni Eropa. Tanpa itu, manfaat maksimal dari perjanjian ini tidak akan tercapai.

Perjanjian IEU-CEPA yang mencakup pembebasan tarif untuk 80 persen produk ekspor Indonesia akan mulai berlaku dalam satu hingga dua tahun ke depan. Kesepakatan ini membuka peluang besar untuk mendorong pertumbuhan perdagangan dan investasi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa capaian ini menjadi milestone baru bagi Indonesia. “Perundingan IEU CEPA masuk tahun ke-10, lebih dari 19 putaran. Namun seluruh isunya akan selesai dan ini tentu merupakan sebuah milestone baru di tengah situasi ketidakpastian,” kata Airlangga.

Sementara itu, pemerintah mulai mempersiapkan langkah-langkah pendukung seperti pelatihan untuk petani sawit kecil, sertifikasi produk, dan penyesuaian rantai pasok agar sesuai dengan regulasi baru Uni Eropa. Pendekatan ini dianggap penting untuk memastikan bahwa peningkatan volume ekspor tidak berbenturan dengan isu keberlanjutan lingkungan dan hak asasi manusia.

Dengan strategi komprehensif ini, Indonesia tidak hanya menargetkan peningkatan volume ekspor, tetapi juga perbaikan citra industri sawit di mata dunia. ***

wwwwww