UIA Gelar Diskusi Geopolitik Bersama Dubes Iran, Dorong Kerja Sama Pendidikan dan Riset
![]() |
| Forum akademik bertema "Dinamika Kontemporer Iran: Mendorong Dialog, Kerja Sama, dan Masa Depan Bersama" di Kampus UIA. |
Rabu, 06 Mei 2026 13:30 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
BEKASI- Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) menggelar forum akademik bertema "Dinamika Kontemporer Iran: Mendorong Dialog, Kerja Sama, dan Masa Depan Bersama" di Kampus UIA, Jalan Raya Jatiwaringin, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (6/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, serta jajaran akademisi dan pimpinan kampus.
Ketua Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah (YAPTA), Dailami Firdaus mengatakan, kehadiran Dubes Iran merupakan bagian dari rangkaian kegiatan akademik internasional yang sebelumnya telah digelar pihak kampus. Dalam forum tersebut, peserta mendapatkan pendalaman terkait dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah serta peluang kerja sama antaruniversitas.
"Tujuan kegiatan ini untuk memperdalam pemahaman akademis, memperkuat ruang dialog konstruktif, serta mendorong kolaborasi antar masyarakat dua negara," kata Dailami.
Senator DPD RI dari Dapil DKI Jakarta ini menuturkan, hubungan antara UIA dan institusi di Iran telah terjalin cukup lama. Salah satu jejak historisnya adalah keterlibatan almarhumah Prof. Tuti Alawiyah dalam forum internasional dunia Islam, termasuk undangan dari tokoh parlemen Iran untuk membahas isu perempuan dan umat Islam.
Ke depan, UIA berencana memperluas kerja sama, khususnya di bidang pendidikan, teknologi, dan riset. Salah satu langkah konkret yang akan dilakukan adalah membuka kelas bahasa Persia di lingkungan kampus.
"Dengan adanya kelas bahasa Persia, mahasiswa bisa lebih memahami peradaban dan hubungan dunia Islam secara lebih mendalam. Kami juga ingin belajar dari kemajuan teknologi Iran yang mampu mandiri dan berkembang," ujarnya.
Sementara itu, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi menyoroti, kondisi terkini di kawasan Asia Barat, termasuk tantangan terhadap keamanan dan stabilitas regional.
Menurutnya, ketegangan di kawasan, khususnya di Teluk Persia, tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga memengaruhi kondisi ekonomi global.
"Kita melihat bagaimana ketidakamanan di kawasan telah memberikan tekanan ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia," ucapnya.
Boroujerdi menjelaskan, diskusi yang dilakukan di UIA tidak hanya membahas aspek geopolitik, tetapi juga pendekatan ilmiah melalui pendidikan, penelitian, dan kajian akademik.
Selain itu, ia mengungkapkan adanya pembahasan terkait peluang kerja sama konkret antara UIA dan universitas di Iran, termasuk rencana pertukaran mahasiswa dan dosen.
Forum ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperdalam hubungan akademik Indonesia-Iran, sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas dalam menghadapi dinamika global secara kolaboratif.
"Kami berharap melalui kerja sama ini hubungan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dapat semakin diperluas dan diperkuat," pungkasnya. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Umum |













