Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Juara Tunggal Putra, Richie: Saya Terharu Dapat Gelar Pertama
Badminton
24 jam yang lalu
Juara Tunggal Putra, Richie: Saya Terharu Dapat Gelar Pertama
2
Tekad Imanol Garcia Berjuang Ekstra Hadapi Persija Jakarta
Sepakbola
23 jam yang lalu
Tekad Imanol Garcia Berjuang Ekstra Hadapi Persija Jakarta
3
BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Cerah Berawan pada Hari Ini
Metropolitan
13 jam yang lalu
BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Cerah Berawan pada Hari Ini
4
Marcos Reina Tak Gentar Kekuatan Pasukan Shin Tae-yong
Sepakbola
23 jam yang lalu
Marcos Reina Tak Gentar Kekuatan Pasukan Shin Tae-yong
5
Oscar Bruzon Optimistis Bhayangkakra FC Mampu Jaga Momentum
Sepakbola
23 jam yang lalu
Oscar Bruzon Optimistis Bhayangkakra FC Mampu Jaga Momentum
6
Raih Gelar Ganda Putra Bersama Daniel, Rian: Sangat Senang Bisa Bawa Junior Juara
Badminton
23 jam yang lalu
Raih Gelar Ganda Putra Bersama Daniel, Rian: Sangat Senang Bisa Bawa Junior Juara
Home  /  Berita  /  Basket

Kedutaan AS Bunyikan Alarm Bahaya Keamanan, Ruang Udara Timur Tengah Terancam Ditutup

Kedutaan AS Bunyikan Alarm Bahaya Keamanan, Ruang Udara Timur Tengah Terancam Ditutup
Presiden AS Donald Trump.
Senin, 21 September 2026 14:03 WIB

JAKARTA - Kenaikan harga komoditas minyak mentah Brent hingga 72 persen sejak awal tahun 2026 menjadi imbas nyata dari terhambatnya rantai pasokan energi global. Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung selama hampir tujuh bulan membuat aktivitas di Selat Hormuz—yang menghubungkan jalur laut Iran dan Oman—mengalami kelumpuhan.

Presiden AS, Donald Trump pada Rabu lalu sempat menyampaikan bahwa konflik panjang tersebut dapat segera menemui titik akhir. Namun, dinamika di lapangan justru memperlihatkan potensi eskalasi cepat, memaksa Departemen Luar Negeri AS merilis imbauan perjalanan darurat bagi warganya, Sabtu malam waktu setempat.

Pernyataan yang diunggah di platform X dan dilansir oleh CNBC Internasional, Senin (21/9/2026) tersebut, meminta warga Amerika mempertimbangkan ulang niat mereka bepergian ke Timur Tengah.

"Konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat. Warga Amerika yang berada di luar Timur Tengah harus mempertimbangkan dengan serius rencana perjalanan ke atau melalui kawasan tersebut," terang Departemen Luar Negeri AS. Institusi itu juga mengingatkan warga yang sudah berada di kawasan terkait untuk bersiap menghadapi penutupan wilayah udara, pembatalan penerbangan, dan rintangan perjalanan lainnya.

Tuntutan Teheran di Meja Perundingan

Kemacetan di jalur minyak Selat Hormuz rupanya disengaja oleh pihak Teheran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf dalam pesan Telegram, Minggu, menyatakan rute tersebut akan terus ditutup hingga AS mengabulkan tuntutan mereka.

Syarat-syarat itu sebelumnya telah dirincikan bulan lalu oleh mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr. Teheran meminta AS mencabut sanksi dan blokade maritim, menarik armada militernya, mencairkan aset Iran yang dibekukan, dan membayar biaya ganti rugi perang. Menurut laporan media setempat, tuntutan ini mencakup pula keharusan AS menyetop serangan ke sekutu-sekutu Iran serta mengakhiri ancaman langsung terhadap Teheran.

Tuntutan berlapis ini kini berada di tangan Washington. Berbicara kepada MS NOW, Sabtu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei mengonfirmasi bahwa mediator dari Pakistan dan Qatar sedang menjembatani perundingan tersebut.

"Kami masih berhubungan dengan mediator dari Qatar. Mereka telah menyampaikan kepada Washington persyaratan kami untuk menghentikan perang dan kami kini menunggu respons Presiden Trump terhadap persyaratan tersebut. Persyaratan kami adalah perang dihentikan di semua front, aset Iran yang dibekukan dilepaskan, serta blokade laut dicabut," jelasnya.

Ancaman Balasan Militer

Di tengah upaya mediasi, angkatan bersenjata Iran menyampaikan peringatan keras melalui media sosial kepada negara-negara tetangga. Mereka mengklaim telah menerima informasi intelijen bahwa AS sedang mengatur operasi militer lanjutan terhadap Iran, dan negara manapun yang membantu Washington akan menerima serangan balasan dari Teheran.

Manuver AS di kawasan ini memang terus berjalan. Pekan lalu, pemerintahan Trump menyetujui transaksi senilai US$24,3 miliar untuk menjual hampir 50 pesawat tempur F-35 kepada Arab Saudi.

Eskalasi Kelompok Pemberontak Houthi

Situasi keamanan regional juga dipicu oleh aksi kelompok pemberontak Houthi yang berbasis di Yaman. Pada Sabtu, kelompok sokongan Iran ini mengaku bertanggung jawab atas serangan rudal dan drone yang menyasar sejumlah kawasan sensitif di Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Klaim ini menyusul laporan adanya kepulan asap tebal dan kobaran api di bandara utama Riyadh yang penyebabnya belum dipastikan otoritas setempat.

Berespons atas hal itu, Trump mengatakan kepada Fox News, Minggu, bahwa dirinya intens berkomunikasi dengan Houthi dan menyebut kelompok itu telah berjanji tidak akan menyerang AS. Menyangkut Iran, Trump menuturkan sedang memikirkan opsi apakah akan menghancurkan negara tersebut, tergantung bagaimana sikap Teheran selanjutnya. Gedung Putih sendiri memilih bungkam saat dimintai konfirmasi soal ucapan sang presiden.

Rentetan manuver Houthi dalam beberapa pekan terakhir, termasuk serangan darat yang berhasil merebut Mokha dan gugusan pulau di sekitar Selat Bab el-Mandeb, memicu peringatan keamanan dari berbagai Kedutaan Besar AS di Timur Tengah. Kawasan mulut Laut Merah ini merupakan salah satu urat nadi bagi pengiriman minyak internasional yang kini berisiko mengalami gangguan serius akibat eskalasi tak terduga.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:viva.co.id
Kategori:Basket
wwwwww