Imigrasi Jakut Patahkan Stigma Sepi Pelayanan, Dua Jam Paspor Ludes di Hari Minggu
![]() |
| Petugas Imigrasi Jakut saat melayani PASPORIA. (Foto: Imigrasi Jakarta Utara) |
Penulis: Bimo Putro Prihandoko
Konsepnya sederhana, tetapi relevan bagi masyarakat perkotaan yang memiliki jadwal kerja padat yakni olahraga tetap jalan, kebutuhan administrasi pun bisa ditangani tanpa harus menunggu hari kerja.
Kegiatan diawali dengan senam bersama yang melibatkan petugas dan masyarakat. Suasana santai itu menjadi pembuka sebelum warga memanfaatkan layanan paspor yang tersedia.
PASPORIA juga menjadi bagian dari upaya Imigrasi Jakarta Utara memperluas jangkauan pelayanan. Masyarakat tidak hanya menunggu di kantor, tetapi dapat menjumpai layanan keimigrasian di ruang publik yang lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari.
Bagi Sisil, salah satu pemohon paspor, layanan akhir pekan seperti PASPORIA memberikan kemudahan yang nyata. Sebagai pekerja dengan jadwal nine to five, ia mengaku kesulitan mencari waktu untuk mengurus paspor pada Senin hingga Jumat.
"Jujur, event Pasporia ini sangat-sangat membantu untuk para pekerja yang memang sibuk dari Senin sampai Jumat dan punya waktu cuma di weekend," kata Sisil usai mengurus paspor.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap pelayanan petugas yang dinilainya ramah dan membantu.
"Bisa dibilang pelayanannya top banget. Dari petugasnya ramah, kemudian memang pelayanan ini sangat membantu untuk orang-orang yang memang cuma punya waktu luang di Minggu. Jadi bisa bikin paspor di hari Minggu tanpa perlu mengajukan cuti di hari kerja," tuturnya.
Pengalaman Sisil menggambarkan salah satu persoalan yang kerap dihadapi pekerja: kebutuhan mengurus dokumen tetap ada, sementara waktu luang terbatas.
Dengan membuka layanan pada akhir pekan, Imigrasi memberikan alternatif bagi masyarakat yang ingin mengurus paspor tanpa harus mengubah jadwal pekerjaan.
Kantor Imigrasi Jakarta Utara menghadapi tantangan tersendiri dalam menjangkau masyarakat. Lokasinya berada di kawasan pergudangan dengan lalu lintas kendaraan berat yang padat, sehingga akses menuju kantor tidak selalu menjadi pilihan praktis bagi semua pemohon.
Kondisi tersebut menjadi alasan penting untuk memperluas jangkauan pelayanan melalui pendekatan jemput bola.
PASPORIA di kawasan CFD menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan layanan di luar kantor, sehingga masyarakat memiliki alternatif lokasi dan waktu untuk mengurus paspor.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Jakarta Utara, Rendra Mauliansyah, diharapkan terus mendorong pelayanan yang cepat, ramah, informatif, dan mudah diakses. Strategi tersebut juga dapat diperkuat melalui publikasi jadwal layanan di media sosial, evaluasi kebutuhan pemohon, serta pengembangan layanan di ruang publik.
"Kami terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan paspor agar semakin mudah diakses, cepat, dan nyaman bagi masyarakat. Melalui PASPORIA, kami menjemput bola dengan menghadirkan layanan di tengah aktivitas warga, terutama bagi pekerja yang sulit meluangkan waktu pada hari kerja," kata Rendra lewat siaran persnya.
"Ke depan, kami ingin memastikan masyarakat semakin mengenal layanan Imigrasi Jakarta Utara. Caranya melalui pelayanan yang ramah dan profesional, penyebaran informasi secara aktif, serta inovasi yang menjawab kebutuhan pemohon. Bagi kami, kualitas pelayanan tidak hanya dilihat dari proses penerbitan paspor, tetapi juga dari pengalaman masyarakat sejak memperoleh informasi hingga menyelesaikan permohonannya," tambahnya.
Apresiasi terhadap pelayanan Imigrasi Jakarta Utara juga datang dari sejumlah figur publik yang menyampaikan pengalaman mereka saat mengurus paspor.
Penyanyi Agnez Mo, misalnya, mengaku memilih kembali kantor tersebut ketika hendak memperpanjang paspor. Ia menyoroti keramahan petugas, kecepatan pelayanan, serta kebersihan kantor.
"Saya melakukan perpanjangan paspor di kantor Imigrasi Jakarta Utara. Karena saya rasa pelayanannya itu yang paling ramah, paling cepat, kantornya juga bersih banget," ujar Agnez dalam testimoninya.
Ia mengatakan telah menggunakan layanan kantor tersebut sejak lima tahun sebelumnya dan merasa puas dengan pengalaman yang diperoleh.
"Makanya sekarang saya pada saat ingin memperpanjang paspor, ya saya datangnya ke lokasi yang sama. So, I just wanna say thank you buat Kantor Imigrasi Jakarta Utara dan terus pertahankan pelayanan yang terbaik," katanya.
Aktor Ferry Salim juga memberikan apresiasi ketika mengantar anaknya mengurus penggantian paspor yang telah habis masa berlaku.
Menurut Ferry, proses pelayanan berlangsung cepat dan petugas memberikan bantuan dengan baik. Ia turut menyoroti kebersihan kantor serta menyebut keluarganya terbiasa mengurus atau mengganti paspor di kantor tersebut.
Testimoni serupa disampaikan aktor Joe Taslim. Ia mengaku mendapatkan pelayanan yang ramah dan informatif ketika mengurus penggantian paspor.
"Di sini pelayanannya ramah banget, informatif. Saya sangat-sangat terbantu sih. Pelayanannya di sini bisa dibilang dua jempol. Salut untuk Kantor Imigrasi Jakarta Utara," ujar Joe.
Sementara itu, pebulu tangkis Jonatan Christie mengungkapkan bahwa ia mengurus penggantian paspor karena halaman dokumennya sudah penuh.
Ia memilih kantor tersebut karena lokasinya dekat dengan rumah. Jonatan juga menilai proses pelayanan yang diterimanya berlangsung cepat.
Dalam testimoninya, ia menceritakan bahwa prosesnya dimulai sekitar pukul 08.05 WIB dan selesai sekitar pukul 08.10 WIB, sementara pengambilan paspor dilakukan setelah dokumen selesai diproses.
Pengalaman para figur publik tersebut memperlihatkan aspek pelayanan yang mereka nilai positif, mulai dari keramahan petugas, kecepatan proses, kebersihan kantor, hingga kemudahan akses.
Testimoni tersebut merupakan pengalaman individual para pemohon, tetapi dapat menjadi masukan bagi penyelenggara layanan untuk mempertahankan standar pelayanan dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
PASPORIA di Wisma KEIAI memperlihatkan bahwa inovasi pelayanan tidak selalu harus berupa perubahan prosedur yang rumit. Penyesuaian waktu dan lokasi juga dapat membantu masyarakat mengakses layanan yang mereka butuhkan.
Bagi pekerja seperti Sisil, layanan akhir pekan memberikan kesempatan mengurus paspor tanpa mengambil cuti. Bagi masyarakat lainnya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mendapatkan informasi dan berinteraksi langsung dengan petugas.
Di sisi lain, testimoni dari sejumlah pemohon menjadi pengingat bahwa kualitas pelayanan tidak berhenti pada dokumen yang selesai diproses. Keramahan, kejelasan informasi, kebersihan, dan kenyamanan turut membentuk pengalaman masyarakat.
Melalui PASPORIA dan strategi jemput bola, Imigrasi Jakarta Utara memiliki ruang untuk menjangkau lebih banyak pemohon sekaligus memperkenalkan layanan kepada masyarakat yang selama ini belum mengetahui pilihan pelayanan yang tersedia.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa banyak paspor yang dilayani, melainkan juga seberapa mudah masyarakat mendapatkan akses dan seberapa baik pengalaman yang mereka rasakan. ***
| Kategori | : | Umum, DKI Jakarta |













