Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gus Jazil Dorong Kemandirian Santri lewat Pertanian Porang
Ekonomi
11 jam yang lalu
Gus Jazil Dorong Kemandirian Santri lewat Pertanian Porang
2
Tino-Mustamsikin Siap Bangkitkan Ekonomi Kendal Lewat Barista dan Industri Kopi
Peristiwa
12 jam yang lalu
Tino-Mustamsikin Siap Bangkitkan Ekonomi Kendal Lewat Barista dan Industri Kopi
3
Ikatan Pelajar Putri NU Diminta jaga Budaya Nusantara dari Rongrongan Drama Korea
MPR RI
4 jam yang lalu
Ikatan Pelajar Putri NU Diminta jaga Budaya Nusantara dari Rongrongan Drama Korea
4
Pasukan Laba Laba Siap Bersaing Raih Tempat Terbaik
Olahraga
2 jam yang lalu
Pasukan Laba Laba Siap Bersaing Raih Tempat Terbaik
5
Jateng Jadi Biang Kerok Covid-19 di RI Meledak & Cetak Rekor
Kesehatan
5 jam yang lalu
Jateng Jadi Biang Kerok Covid-19 di RI Meledak & Cetak Rekor
6
Menginap di Hotel bersama Pacar, Mahasiswi Terjun dari Lantai 4
Peristiwa
23 jam yang lalu
Menginap di Hotel bersama Pacar, Mahasiswi Terjun dari Lantai 4
Home  /  Berita  /  GoNews Group

HIPMI Desak BKPM Tidak Gegabah Naikkan Porsi Saham Asing di Indonesia

HIPMI Desak BKPM Tidak Gegabah Naikkan Porsi Saham Asing di Indonesia
ilustrasi
Rabu, 10 Februari 2016 10:46 WIB
JAKARTA - Pemerintah melalui BKPM berencana memperbesar porsi kepemilikan asing di berbagai bidang contohnya di bidang transportasi dari 49 persen menjadi 67 persen. Menanggapi hal ini, Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menyatakan tidak setuju dengan keputusan BKPM ini. Pasalnya, kebijakan ini tidak sesuai dengan program nawacita yang diusung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

''Rencana BKPM untuk memperbesar porsi kepemilikan saham asing, sangat tidak sesuai dengan konsep nawacita yang diusung oleh Presiden. Salah satu poin yang terdapat dalam Nawacita itu kan meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional. Namun, dengan kenyataan yang ada saat ini justru berbanding terbalik dengan Nawacita,'' ujar Ketua BPP HIPMI Bidang Organisasi Anggawira di Jakarta (10/2/2016).

Anggawira mengatakan HIPMI akan mendesak BKPM untuk merevisi proposal perubahan Daftar Negatif Investasi (DNI) tersebut. BKPM dinilai telah gegabah dalam menetapkan kebijakan. Investasi asing, tutur Anggawira memang penting untuk menunjang kemajuan ekonomi dalam negeri, akan tetapi harus dikontrol dengan baik, tidak semuanya harus dibuka ke asing.

''Penanaman Modal Asing (PMA) memang penting karena investasi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Namun tetap harus ada porsi yang sesuai, jangan semuanya di buka untuk ‘asing ini terlalu liberal,'' imbuhnya

Lebih lanjut Anggawira mengatakan bahwa HIPMI mempertayajn rasa nasionalisme Kepala BKPM yang tidak sesuai dengan nawacita. Disaat masyarakat mengharapkan BKPM mampu mengemban tugas dengan optimal, namun justru hal yang dilakukan BKPM malah tidak sesuai harapan masyarakat.

''Dengan kebijakan BKPM yang ingin menaikan porsi saham investor asing kami jadi mempertanyakan rasa nasionalisme kepala BKPM. Kami menilai konsep ini sangat- sangat liberal dan tidak sesuai dengan nawacita. Untuk itu, kami mendesak BKPM untuk mengkaji kembali kebijakan ini dan mendengar masukan dari dunia usaha dan stakeholder lain,'' pungkasnya. ***

Editor:Hermanto Ansam
Kategori:Ekonomi, GoNews Group
wwwwww