Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
14 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
16 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
3
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
11 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
4
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
KOI
9 jam yang lalu
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
5
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
KOI
9 jam yang lalu
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
6
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Beladiri
8 jam yang lalu
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Home  /  Berita  /  Badminton

Gawat, Harga Minyak Turun, Lifting Turun, Cost Recovery Masih Besar

Senin, 22 Februari 2016 21:13 WIB
Penulis: Syafri Ario
gawat-harga-minyak-turun-lifting-turun-cost-recovery-masih-besarAmin Sunaryadi
JAKARTA- Sektor Industri Minyak Bumi di Indonesia saat ini benar-benar mengkhawatirkan, pasalnya, saat harga minyak terjun bebas, lifting produksi minyak dan penemuan cadangan juga menurun, namun, cost recoverynya tetap tinggi yang dana berasal dari APBN.

Kepala SKK Migas, Amin Sunaryadi, memaparkan tantangan industri hulu migas secara global terjadi penurunan eksplorasi dan produksi rata-rata 20 persen (2014-2015). Hampir seluruh major company, IOC dan NOC mengalami penurunan investasi.

Tak hanya itu, cadangan pun penurunan, karena penemuan cadangan yang tidak bisa cepat, ini mengakibatkan kapasitas produksi juga menurun.

"Dulu 10-30 minyaknya, sekarang airnya lebih banyak 90 persen, dan minyak yang dihasilkan juga minyak mahal, sekarang yang dominan gas, kalau dulu minyak," jelasnya, Senin (22/2/2016) saat RDP dengan Komisi VII.

Namun, disisi lain, sebesar $38 juta, jumlah ini akan tetap menjadi unrecove cost dan $2.029 milyar dolar ini belum direcoverikan karena dalam tahap pengembangan dan produksi belum keluar.

Total biaya yang dikeluarkan yang belum direcovery $ 8,71 milyar. Komposisi cost recovery di 2015 ini masih belum diaudit, terdapat produksi, explorasi dan development, administrasi, investmen credit, unrecover cost.

Paling besar biaya produksi, lalu eksplorasi, pengembangan, dan depresiasi atau pengeluaran di beberapa tahun sebelumnya.

"Jadi kondisinya saat ini cost recovery tidak turun, goverment tax turun signifikan, harga minyak turun," ujar Amin ***

wwwwww