Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
20 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
22 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
21 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
4
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
22 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
5
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
Sepakbola
20 jam yang lalu
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
6
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
11 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Home  /  Berita  /  Badminton

Indonesia Police Watch: Kerjasama TNI - Polri dalam Melumpuhkan Tokoh Teror Santoso, Patut Diapresiasi

Indonesia Police Watch: Kerjasama TNI - Polri dalam Melumpuhkan Tokoh Teror Santoso, Patut Diapresiasi
Gembong Teror Poso, Santoso. (net)
Rabu, 20 Juli 2016 17:36 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Kerja sama TNI-Polri dalam melumpuhkan tokoh teroris Santoso di Poso, Sulteng patut diapresiasi, meski penumpasan kelompok teroris yang hanya sebanyak 30 orang ini cukup lama, yakni berlangsung 8 bulan dengan melibatkan 3.000 personil.

Indoneis Police Watch menilai, tewasnya Santoso bisa disebut sebagai hadiah TNI untuk Kapolri baru Tito Karnavian. Sebab Santoso tewas dalam operasi yang dilakukan TNI, yang berujung pada aksi tembak menembak. Dari kasus Santoso terlihat adanya soliditas antara tni dan polri dlm melakukan kerjasama di Operasi Tinombala.

"Dengan tewasnya Santoso, Polri tetap perlu bekerja keras mengantisipasi perlawanan para teroris. Sebab saat ini ada dua tokoh yang berbahaya, yakni Ali Kolara yang berpotensi menggantikan posisi Santoso di Poso dan Arief Maroef tokoh yang menyembunyikan Noordin M Top, yang sekarang sudah bebas dan berada di Jogja. Keduanya perlu diwaspadai Polri," ujar Neta S Pane kepada GoNews.co, Rabu (20/07/2016) di Jakarta.

Menurutnya, tewasnya Santoso bukan berarti aksi terorisme di indonesia akan berakhir. Yang dikhawatirkan justru adanya serangan balasan dari antek-antek dan jaringan Santoso. "Di Poso sendiri Santoso sudah membangun kader. Salah satu, Ali Kolara. Kelompok Santoso sendiri merupakan satu dari 9 kelompok radikal yang masih tumbuh subur di indonesia, dan sangat berpotensi melahirkan para teroris," ujarnya.

Walau Santoso sudah tewas, pengejaran polri terhadap teroris di indnesia belum akan berhenti. Sebab kelompok solo kata dia, masih terlihat sangat agresif. "Setidaknya ini terlihat dalam aksi bom bunuh diri di Mapolresta solo akhir ramadan lalu. Potensi teroris ini makin mengkhawatirkan tatkala beredar kabar masuknya dana setara Rp20 miliar dari suriah ke Jogja yang diduga untuk kelompok teroris. Artinya Kapolri baru Tito Karnavian maupun kepala BNPT yang baru Komjen Suhardi Alius masih harus melakukan kerja keras guna menekan aksi-aksi terorisme di indonesia," pungkasnya. (***)

wwwwww