Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ardhi Tjahjoko Optimistis Persija Bisa Tampil Maksimal Hadapi Persebaya
DKI Jakarta
24 jam yang lalu
Ardhi Tjahjoko Optimistis Persija Bisa Tampil Maksimal Hadapi Persebaya
2
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
9 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
3
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
10 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
4
BMKG Prakirakan Hujan Membasahi Sejumlah Wilayah Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Hujan Membasahi Sejumlah Wilayah Jabodetabek Hari Ini
5
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
KOI
10 jam yang lalu
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
6
‎Bank Jakarta Banjir Pembukaan Rekening, Dana Rp5 Miliar Terhimpun di FinFest
Ekonomi
13 jam yang lalu
‎Bank Jakarta Banjir Pembukaan Rekening, Dana Rp5 Miliar Terhimpun di FinFest
Home  /  Berita  /  Badminton

Akhirnya Terungkap Siapa Dalang Wacana Masuknya TNI dalam Pemberantasan Terorisme

Akhirnya Terungkap Siapa Dalang Wacana Masuknya TNI dalam Pemberantasan Terorisme
Ilustrasi.
Senin, 25 Juli 2016 13:54 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Anggota Komisi III DPR RI, Arsul Sani membongkar dalang dibalik usulan masuknya TNI dalam pemberantasan terorisme.

Menurut kader Partai Persatuan Pembangunan tersebut, masuknya soal TNI dalam revisi Undang-Undang terorisme merupakan usulan kalangan akademik.

"Masukan soal TNI itu dari kalangan akademik," ujar Arsul saat dihubungi, Senin (25/7/2016).

Arsul pun tidak menampik pelibatan TNI dalam situasi tertentu. TNI memang diperlukan tetapi tidak boleh keluar jauh dari UU No.34 tahun 2004 tentang TNI dan UU No.3 tahun 2002 tentang pertahanan negara.

"Pelibatan TNI tidak boleh menggeser paradigma pemberantasan terorisme dari basis proses peradilan pidana menjadi pendekatan perang atau keamanan nasional (internal security)," jelasnya.

Wacana untuk melibatkan TNI dalam memberantas terorisme berawal dari keberhasilan prajurit TNI menembak mati pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso.

Santoso pun tewas dalam baku tembak dengan tim Operasi Tinombala 2016 di Desa Patiwunga, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Minggu (24/4/2016). Aparat yang baku tembak adalah pasukan dari Batalyon Raider 515 Kostrad. (***)

wwwwww