Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
17 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
19 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
18 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
4
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
19 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
5
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
Sepakbola
17 jam yang lalu
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
6
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
8 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Home  /  Berita  /  Beladiri

Pengamat: Kasus Ketua KNPI Sumut jadi Pelajaran Pemilik Akun Medsos

Pengamat: Kasus Ketua KNPI Sumut jadi Pelajaran Pemilik Akun Medsos
Ilustrasi (Google)
Kamis, 11 Agustus 2016 16:55 WIB
Penulis: Yusuf Ahmad
MEDAN - Bagi pengguna media sosial (medsos) sebaiknya lebih bijaksana dalam  menyuarakan pendapatnya melalui akun pribadi medsos. Karena vonis bersalah 14 bulan penjara yang diberikan Hakim PN Medan kepada Ketua KNPI Sumut, Dodi Sutanto, harus menjadi pelajaran bagi seluruh pemilik akun medsos.


Pakar hukum Universitas Sumatera Utara (USU), Abdul Hakim Siagian menuturkan, sebagai negara demokrasi, Indonesia dalam konstitusi UUD 1945 memang menjamin kebebasan berpendapat bagi semua warga negaranya. Namun, kebebasan berpendapat itu tidak bisa dilakukan dengan sesuka hati tanpa memikirkan hak-hak orang lain.

"Kebebasan tersebut bukan berarti kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa aturan. Ada hak warga negara lain yang harus dijaga martabat dan nama baiknya," kata dia kepada GoSumut, Kamis (12/8/2016).

Oleh karena itu, masyarakat yang ingin mengungkapkan pendapatnya di internet, harus juga memikirkan dan menjaga hak-hak yang dimiliki oleh orang lain.Karena pencemaran nama atau penghinaan baik lewat sosial media telah menjadi fenomena yang marak terjadi di jejaring sosial dalam beberapa tahun belakangan ini.

"Karena itu kasus Dodi harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pengguna akun online,” sebutnya.

Lebih lanjut dia mengtatakan, pencemaran nama baik merupakan perbuatan melawan hukum yang menyerang kehormatan atau nama baik orang lain. Pencemaran nama baik melalui jaringan internet dalam perkembangannya sudah dapat di kategorikan sebagai kejahatan yang mengkawatirkan.

Seperti diketahui, majelis hakim memutuskan, Dodi bersalah, karena melanggar Pasal 27 ayat 3jo Pasal 45 ayat 1 undang-undang nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dodi pun divonis bersalah dan dihukum penjara selama 14 bulan denda Rp5 juta.

Editor:Arif
Kategori:Beladiri, PON
wwwwww