Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
24 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
2
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
22 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
3
Denlson Junior Siap Hadapi Laga Panas Lawan Persija
Sepakbola
22 jam yang lalu
Denlson Junior Siap Hadapi Laga Panas Lawan Persija
4
Ambisi Madura United FC Putus Tren Positif PSM Makassar
Sepakbola
22 jam yang lalu
Ambisi Madura United FC Putus Tren Positif PSM Makassar
5
Mauro Jeronimo Harus Atur Kondisi Pemain Borneo FC Agar Tetap Kompetitif
Sepakbola
22 jam yang lalu
Mauro Jeronimo Harus Atur Kondisi Pemain Borneo FC Agar Tetap Kompetitif
6
Hadapi Persita Tangerang, Persik Kediri Fokus Latihan Finishing Klinis
Sepakbola
22 jam yang lalu
Hadapi Persita Tangerang, Persik Kediri Fokus Latihan Finishing Klinis
Home  /  Berita  /  Badminton

Kisah Remaja Aceh Nyaris Gabung ISIS

Kisah Remaja Aceh Nyaris Gabung ISIS
Akbar Maulana, remaja Aceh yang nyaris gabung ISIS. (Viva.co.id/Dinia Adrianjara)
Senin, 22 Agustus 2016 22:01 WIB
Perkembangan media sosial kini menjadi salah satu sarana yang digunakan kelompok radikal ISIS, untuk mempertontonkan aksi brutal dan merekrut generasi muda di dunia. Salah satu remaja Indonesia yang nyaris kepincut propaganda ISIS adalah Akbar Maulana, remaja 16 tahun asal Aceh yang memperoleh beasiswa SMA dari Pemerintah Turki di SMA Imam Hatib, Kayseri.

Siswa kelas 12 yang mahir berbahasa Arab ini sempat dibuat ‘galau’, lantaran dua temannya yang juga berasal dari Indonesia telah bergabung dengan ISIS, akibat terpengaruh media sosial Facebook.

Suatu ketika Akbar melihat foto Yazid, salah seorang temannya yang juga berasal dari Indonesia, telah bergabung dengan kelompok ISIS dan berfoto dengan senapan AK-47. Menurutnya, penampilan Yazid saat itu sangat gagah karena menjadi salah satu tentara jihad.

Nyaris tergoda, Akbar mengakui bahwa tren perekrutan melalui media sosial ini sangat mungkin terjadi karena para remaja hari ini lebih banyak meluangkan waktu di depan internet dan jarang berinteraksi dengan lingkungan.

"Saya lihat mereka yang bergabung dengan kelompol ISIS banyak yang pendiam dan lebih sering di depan komputer, bermaingame online dan Facebook. Meskipun ikut berkumpul, mereka lebih banyak diam. Saya cukup kaget melihat mereka yang tewas di daerah perang seperti itu," kata Akbar Maulana kepada wartawan di Gedung Kementerian Luar Negeri RI, Senin, 22 Agustus 2016.

Akbar mengatakan, hubungannya yang dekat dengan orangtua, terutama ibu, adalah salah satu faktor yang membuat ia urung bergabung dengan kelompok radikal tersebut. Ia meyakini, jihad bisa ditempuh melalui banyak cara yang lebih luas ketimbang bergabung dengan kelompok ekstrimis seperti itu.

"Saya ingat dengan ibu saya, itu yang membuat saya tak jadi bergabung. Selain itu, pemerintah jangan lagi menggunakan gaya kuno untuk memberikan pandangan-pandangan ekstrimisme kepada pemuda. Mereka perlu diberikan pengarahan dengan cara yang lebih modern supaya pemahaman mengenai hal ini bisa diterima dengan baik," kata Akbar.

Ia kemudian berpesan bahwa peran generasi muda dan orangtua dalam membantu membina pencarian jati diri seorang anak sangat penting, supaya tidak terjerumus ke dalam kelompok radikal yang tidak benar.

Editor:Kamal Usandi
Sumber:viva.co.id
Kategori:PON, Badminton, Aceh
wwwwww