Melihat Pertanian Terpadu di Kuansing, Walau Cuma Dua Hektare Namun Hasilnya Setara 20 Hektare Sawit
![]() |
| Herry Yusman memperlihatkan pertanian terpadu yang ia kelola sejak beberapa tahun silam, Minggu (11/12/2016). |
Penulis: Wirman Susandi
Pria tersebut memang tak berbaju. Sepertinya ia gerah, bukan karena terik matahari, melainkan siap mencangkul.
"Baru siap 'nyangkul', Fran,?" sapa Herry Yusman kepada pemuda bertato tersebut. Kepada GoRiau.com, Herry menyatakan Fran merupakan karyawannya yang bertugas mengurus kebun seluas dua hektare.
"Ada tiga kepala keluarga yang saya datangkan dari Pulau Jawa untuk mengurus kebun ini. Fran, ayahnya dan ada saudara perempuannya yang juga telah bersuami bekerja di sini," terang Herry.
Kebetulan, pada Minggu (11/12/2016) pukul 11.00 Wib itu, semua anggota keluarga sedang bercengkrama di sebuah balai-balai, tepatnya di depan sebuah gubuk. Di dekat balai-balai tersebut, tegak berdiri kokoh sebatang sawit yang diperkirakan umurnya 6-8 tahun.
Melihat Herry datang bersama Linskar, Kepala Badan Kesbangpol Kuansing, istri Fran beranjak pergi. Sementara Fran dan ayahnya sibuk mengasah dodos.
"Rencananya, besok sawit ini dipanen. Untuk sekali panen, rata-rata hasilnya 1,5 ton sampai 1,8 ton. Pernah sekali mencapai 2 ton," ucap Herry. Jumlah tersebut diperoleh dari 225 pokok sawitnya.
Herry terus berjalan ke belakang gubuk yang seyogyanya sebagai pendopo. Namun, untuk saat ini digunakan sebagai tempat tinggal oleh karyawannya.
Di belakang pendopo inilah terdapat tanaman cabai merah yang waktu itu sudah berumur kurang dua hari dari tiga bulan. Cabai tersebut ditanam di antara pohon kelapa sawit. "Ini cabai tahap pertama, kemaren sudah panen 1,5 Kg."
"Tahap kedua masih berumur dua bulan, sudah berbuah juga tapi belum masak," papar Herry sambil memotong daun paling bawah dengan pisau kater. Menurut alumnus Faterna Unand 89 ini, daun tersebut hanya menghabiskan makanan.
Sementara, sekeliling pondok tersebut terdapat pohon cabai yang beraneka tingkatan.
Untuk saat ini, lanjut Herry, sudah ada 11.000 batang cabai yang ditanam dengan berbagai tingkatan. Hal itu sengaja dilakukan agar panen dilakukan setiap saat.
"Nah, kalau bertanam cabai, tak bisa dua kali di tempat yang sama. Harus ada rentang waktunya. Karena itu, pada cabai yang sudah mencapai tiga bulan, disisip lagi jahe. Setelah cabai panen, langsung jahe yang berkembang," papar Herry.
Untuk panen cabai ini, Herry menyatakan targetnya 1 Kg per batang. Cabai tersebut terlihat sangat segar dan jauh dari serangan hama dan penyakit lainnya.
"Kita menggunakan kompos untuk memupuknya. Saya sudah membuat rumah kompos sejak tahun 2008 silam. Jadi, selain memupuk cabai, juga memberi makan untuk sawit," ucap Herry. Keberadaan kebun cabai dan sayuran lainnya, secara tidak langsung telah membersihkan kebun sawit. Bahkan, tak terlihat dampak negatif terhadap dua tanaman tersebut.
"Kita sudah sediakan sumur bor, bahkan ada kolam penampung air yang baru dibuat. Ini untuk antisipasi kekeringan," tanggap Herry ketika dilontarkan sawit butuh banyak air dan cabai harus juga mendapat air.
Herry terus mengajak GoRiau.com dan Linskar sebagai tamunya berkeliling melihat pertanian terpadu yang ia ciptakan. Selain cabai merah, Herry juga menanam cabai rawit, terong dan pare.
"Kalau semuanya sudah tertanam (cabai), 10 KK pun bisa dihidupi di sini (sekarang 3 KK)," ujar Herry yang memperlihatkan rumah komposnya. Di sana terdapat bibit terong, cabai dan jahe.
Dikatakan Herry, kendati luas kebun sawitnya hanya dua hektare, namun uang yang dihasilkan dari lahan tersebut setara 20 hektare sawit.
Mengintegrasikan sawit dan cabai bukan baru kali ini dilakukan Herry. Sejak tahun 2012 silam, ia sudah mengembangkan bagaimana cabai merah bisa berkembang di kebun sawit.
Usaha tersebut tidak selalu lancar. Pada tahun 2014, ia mengaku mengalami kerugian dikarenakan jatuhnya harga cabai di pasaran, yakni Rp9.000 per Kg. Kendati demikian, hal itu tak menyurutkan semangatnya dalam bertani.
Keseriusan Herry dalam mengembangkan sayuran di kebun sawit bermula ketika dirinya masih penyuluh lapangan di SKPD Kuansing. Ia terus memantau harga cabai di pasaran yang semuanya diimpor dari Sumatera Barat.
"Dari situ saya berpikir, bagaimana memutus mata rantai dan dominasi Sumbar atas cabai di Riau, khususnya Kuansing. Saya juga ingin membuktikan, bahwa Kuansing cocok sebagai sentra cabai, seperti Kampar yang mampu membuktikan diri sebagai sentra bawang," ujar Herry.
Baca Juga: Kampar Kembangkan Penangkaran Benih Bawang dan Cabai, Kementan Bantu Lewat APBN
Ia mendorong agar petani sawit di Kuansing mampu mengoptimalkan lahannya dengan menerapkan pertanian terpadu. Bahkan, jika ada 50 petani yang mengikuti jejaknya, ia optimis pangsa pasar tetap akan tersedia. *** #KUANSING












