Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
23 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
2
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
KONI
20 jam yang lalu
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
3
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
Umum
23 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
4
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
KOI
20 jam yang lalu
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
5
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
6 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
6
KONI Pusat Ajak Kementerian/Lembaga Bersinergi Sukseskan PON Pantai 2026
KONI
19 jam yang lalu
KONI Pusat Ajak Kementerian/Lembaga Bersinergi Sukseskan PON Pantai 2026
Home  /  Berita  /  Umum

Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli

Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Jakarta, Ahmad Lukman Jupiter. (Ist).
Jum'at, 06 November 2026 13:20 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Jakarta, Ahmad Lukman Jupiter, menyoroti hasil Pemilu Sela (Midterm Elections) Amerika Serikat yang digelar pada 3 November 2026.

‎Menurutnya, kemenangan Partai Demokrat dalam merebut kendali DPR dan Senat menjadi bukti bahwa rakyat memiliki kekuatan untuk mengoreksi pemerintahan sekaligus menentukan arah kekuasaan.

‎
‎Jupiter mengatakan, hasil pemilu tersebut bukan sekadar pergantian dominasi partai politik di Kongres Amerika Serikat, melainkan memberikan pelajaran penting tentang makna kedaulatan rakyat dalam sistem demokrasi.
‎
‎"Demokrasi sejatinya bukan hanya tentang siapa yang memenangkan pemilu, melainkan bagaimana kekuasaan diperoleh, dijalankan, dan dipertanggungjawabkan kepada rakyat," kata Jupiter dalam refleksinya, Jumat (6/11/2026).
‎
‎Dia menilai, sejumlah persoalan yang menjadi perhatian pemilih, mulai dari biaya hidup, inflasi, lapangan pekerjaan, pelayanan kesehatan hingga pengaruh uang dalam politik, menunjukkan bahwa masyarakat semakin mempertimbangkan dampak nyata kebijakan pemerintah terhadap kehidupan sehari-hari.
‎
‎Jupiter juga menekankan, negara bukan milik segelintir elite, pemilik modal, ataupun kelompok yang memiliki akses terhadap kekuasaan. Seluruh lapisan masyarakat, termasuk buruh, petani, nelayan, tenaga kesehatan, guru, dan pelaku usaha kecil, memiliki hak yang sama dalam menentukan masa depan bangsa.
‎
‎Karena itu, dia mengingatkan agar suara rakyat tidak dijadikan komoditas politik yang dapat diperjualbelikan melalui uang, bantuan sesaat, intimidasi, maupun tekanan dari kelompok tertentu.
‎
‎Jupiter menyatakan, proses demokrasi yang dibangun melalui praktik manipulatif dan transaksional berisiko melahirkan kekuasaan yang kehilangan orientasi moral. Kekuasaan justru dapat digunakan untuk mengembalikan modal politik, memperkaya diri, serta menguntungkan kelompok tertentu dibandingkan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
‎
‎"Demokrasi tidak boleh berhenti pada penghitungan suara. Demokrasi harus dimulai dari kejujuran proses dan berakhir pada kesejahteraan rakyat," ujarnya.
‎
‎Selain persoalan kedaulatan rakyat, Jupiter melihat hasil Pemilu Sela Amerika Serikat juga memperlihatkan pentingnya mekanisme pengawasan dan keseimbangan kekuasaan atau checks and balances. Kemenangan Demokrat di Kongres tidak serta-merta menggantikan Donald Trump sebagai presiden, tetapi memberikan ruang lebih besar bagi parlemen untuk mengawasi kebijakan pemerintah.
‎
‎Dia menegaskan, dalam demokrasi konstitusional, tidak boleh ada kekuasaan yang berjalan tanpa batas. Presiden memiliki kewenangan memimpin pemerintahan, sementara parlemen menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran. Di sisi lain, rakyat tetap memiliki hak untuk mengevaluasi pemimpin melalui pemilihan umum.
‎
‎Jupiter mengingatkan bahwa demokrasi harus menjamin hak seluruh warga negara, termasuk kelompok minoritas dan masyarakat yang memiliki pilihan politik berbeda. Sebab, demokrasi yang sehat tidak hanya melindungi pihak yang memenangkan pemilu, tetapi juga menghormati hak mereka yang berada di luar kekuasaan.
‎
‎Lebih jauh, dia menilai politik harus kembali berorientasi pada persoalan kemanusiaan. Berbagai dinamika global, mulai dari konflik internasional, ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan hingga ketidakstabilan energi, pada akhirnya memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat, terutama melalui kenaikan harga pangan dan energi serta tekanan ekonomi.
‎
‎Jupiter mencontohkan, kesulitan keluarga memenuhi kebutuhan rumah tangga, buruh yang kehilangan pekerjaan, petani yang menghadapi kenaikan biaya produksi, hingga nelayan yang kesulitan membeli bahan bakar merupakan persoalan nyata yang seharusnya menjadi perhatian utama para pengambil kebijakan.
‎
‎Dia juga mengingat kembali dinamika gerakan buruh di Amerika Serikat pada 2008. Menurutnya, perjuangan buruh tidak sebatas menuntut kenaikan upah, tetapi juga menyangkut akses kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, pekerjaan layak, dan kesempatan yang setara.
‎
‎Pengalaman tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa demokrasi membutuhkan masyarakat yang aktif menyampaikan aspirasi, terorganisasi, serta berani mengawasi jalannya pemerintahan. Rakyat tidak boleh hanya dibutuhkan ketika pemilu berlangsung, kemudian dilupakan setelah pemimpin terpilih.
‎
‎Karena itu, Jupiter berpandangan demokrasi harus terus hidup melalui partisipasi masyarakat, kritik, dialog, dan keberanian memperjuangkan kepentingan publik.
‎
‎Dia menegaskan, keberhasilan seorang pemimpin tidak semestinya hanya diukur dari besarnya kekuasaan, jumlah suara yang diperoleh, ataupun kekuatan kelompok politik yang mendukungnya. Ukuran sesungguhnya adalah kemampuan menghadirkan kesejahteraan, keadilan, pelayanan kesehatan dan pendidikan yang terjangkau, serta perlindungan bagi masyarakat yang lemah dan membutuhkan.
‎
‎"Politik tidak boleh berhenti pada pertanyaan siapa yang berkuasa. Politik harus menjawab untuk siapa kekuasaan itu digunakan," tegasnya.
‎
‎Jupiter berharap dinamika politik Amerika Serikat dapat menjadi pengingat bahwa tidak ada kekuasaan yang bersifat permanen dan tidak ada pemimpin yang boleh merasa kebal terhadap kritik. Kekuasaan harus diperoleh secara jujur, dijalankan dengan penuh tanggung jawab, dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.
‎
‎Menurutnya, suara rakyat bukan sekadar angka dalam hasil pemilihan, melainkan mandat, amanah, sekaligus wujud kedaulatan yang wajib dihormati.
‎
‎"Pada akhirnya, politik seharusnya menjadi jalan untuk memanusiakan manusia. Itulah esensi demokrasi yang sesungguhnya," pungkas politisi Partai NasDem tersebut. ***

Editor:Senopati Ukoro
Kategori:Umum, Internasional
wwwwww