Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
19 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
12 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
11 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
4
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
19 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
5
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
12 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
6
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
12 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Home  /  Berita  /  Badminton

Bunuh 100 Militan ISIS, Gadis Cantik Berambut Pirang Ini Malah Dianggap Teroris di Negaranya

Bunuh 100 Militan ISIS, Gadis Cantik Berambut Pirang Ini Malah Dianggap Teroris di Negaranya
Joanna Palani. (dream)
Kamis, 09 Februari 2017 10:37 WIB
KOPENHAGEN - Joanna Palani, gadis cantik berambut pirang asal Denmark ini, menjadi perhatian masyarakat dunia, karena dia mengklaim telah membunuh 100 militan ISIS.

''Pejuang ISIS sangat mudah untuk dibunuh,'' kata Joanna, dilansir dari Mirror, Rabu (8/2/2017).

Joanna meninggalkan studinya di Denmark memutuskan bergabung dengan pejuang anti-ISIS di pertempuran Irak dan Suriah dengan menjadi penembak jitu (sniper).

''Saya bersedia menyerahkan hidup saya dan kebebasan saya untuk menghentikan ISIS sehingga semua orang di Eropa bisa aman,'' ucap dia.

Selain menjadi penembak jitu, dia juga ikut membebaskan perempuan dan anak-anak yang ditahan dan dijadikan budak nafsu militan ISIS. Usai dibebaskan, mereka diajari untuk menjadi tentara dan melawan ISIS.

Joanna merupakan keturunan Iran-Kurdi dan ayah dan kakeknya adalah pejuang Peshmerga. Dia lahir di sebuah kamp pengungsi PBB sebelum pindah ke Kopenhagen. Dia belajar mengokang senjata sejak usia sembilan tahun.

Tapi, dia mengatakan, kehidupan berubah setelah berjuang di Irak. Dia dianggap seorang teroris oleh negaranya tempat dia tinggal, Denmark.

''Tapi saya melihat sebagai teroris oleh negara saya sendiri," ucap dia.

''Saya tinggal di salah satu negara terbaik di dunia, namun saya mengalami kelaparan, menjadi tunawisma, meskipun saya bekerja, saya tidak mendapat kepercayaan siapa pun,'' kata dia menambahkan.***

Editor:hasan b
Sumber:dream.co.id
Kategori:PON, Badminton
wwwwww