Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
![]() |
| Sudaryono. |
JAKARTA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, menegaskan komitmen lembaganya dalam membenahi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. BGN terpaksa mengambil langkah tegas untuk merombak sejumlah aturan lapangan yang dinilai mulai menyimpang dari tujuan awal. Kebijakan ini disampaikannya secara langsung dalam agenda Transformasi MBG 2.0 di Usmar Ismail Hall, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026).
Amankan APBN dari Praktik Curang
Sudaryono menjelaskan bahwa pendekatan drastis yang diterapkan saat ini murni dilakukan demi perbaikan sistem. Ia ingin memastikan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk program prioritas tersebut tersalurkan tepat sasaran tanpa kebocoran.
"Bukan kami mau sok-sok tegas atau galak, tapi ketegasan ini menjadi sebuah kebutuhan yang benar-benar dibutuhkan di momen saat ini," tegasnya.
Buka Ruang Aspirasi Masyarakat
Terkait dinamika penolakan di lapangan, BGN memastikan selalu bersikap terbuka terhadap berbagai masukan dari warga. Sudaryono menilai kebebasan berekspresi merupakan hak wajar dalam iklim demokrasi, dimana setiap orang bebas menyuarakan tuntutan maupun harapan.
Meski demikian, ia meminta masyarakat memberikan kesempatan bagi BGN untuk membereskan sengkarut distribusi makanan bergizi ini secara bertahap dan terukur.
"Kami tidak antikritik. Tapi kepada masyarakat yang datang menyampaikan aspirasi saat demo, saya sampaikan dua hal. Pertama, izinkan saya meminta waktu. Kedua, izinkan saya bekerja dengan benar," urainya.
Lebih jauh, Sudaryono menjamin hak masyarakat sebagai penerima manfaat tidak akan dikurangi sedikit pun selama proses evaluasi berjalan. Namun, ia memastikan lembaga yang dipimpinnya tidak akan memberi toleransi jika menemukan adanya indikasi penyelewengan.
"Manakala hak Bapak dan Ibu memang benar harus dipenuhi, saya pastikan tidak akan berkurang sedikit pun. Tapi jika hak itu adalah bagian dari praktik manipulasi, mohon maaf, kita tidak bisa teruskan," pungkasnya. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | detik.com |
| Kategori | : | Umum |













