Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
15 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
17 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
3
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
12 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
4
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Beladiri
9 jam yang lalu
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
5
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
KOI
10 jam yang lalu
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
6
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
KOI
10 jam yang lalu
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
Home  /  Berita  /  Badminton

34 Tahun Berkonflik, Pertikaian Nelayan Rawai dan Jaring Batu di Riau tak Putus

34 Tahun Berkonflik, Pertikaian Nelayan Rawai dan Jaring Batu di Riau tak Putus
Konflik nelayan.
Jum'at, 10 Februari 2017 12:13 WIB
Penulis: Ratna Sari Dewi
PEKANBARU - Hingga kini, Peraturan Daerah (Perda) yang dirancang dan diterbitkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau bersama Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) Provinsi Riau dinilai belum cukup tegas untuk memutus pertikaian antara nelayan rawai dan nelayan jaring batu.

Konflik ini pun berkepanjangan selama 34 tahunsejak tahun 1983 tanpa penyelesaian dan regulasi yang tegas dari pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) maupun Pemprov Riau.

"Kami sudah menaruh perhatian pada konflik ini, sejak awal turun ke sana. Bahkan, Selasa (7/2/2017) kemarin, kami bersama tim pansus DPRD turun ke Kabupaten Bengkalis untuk mendengarkan aspirasi nelayan rawai," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Diskanlut Provinsi Riau, Nafilson kepada GoRiau.com di Pekanbaru, Jumat (10/2/2017).

Diuraikan Nafilson, sejak terjadi konflik pertama pihaknya telah menurunkan tim investigasi dan menyosialisasi UU Nomor 45 Tahun 2009 dan PermenKP Nomor 79 Tahun 2016 yang mengatur tentang alat penangkapan ikan.

"Konflik kedua ketika kapal jaring batu ditangkap nelayan rawai, kami lekas menurunkan tim penyidik PPNS Diskanlut dengan Satpol air. Melibatkan Danlanal setempat juga," kisahnya.

Terhitung sejak konflik ini terjadi, setidaknya telah memakan korban jiwa dan korban luka, baik secara fisik dan psikis. Tercatat pada tahun 2006 konflik antar nelayan memakan lima korban nelayan meninggal dunia dan puluhan warga luka-luka.

Secara terpisah, verifikasi alat tangkap jaring batu pun telah dilakukan langsung oleh Tim Balai Besar Penangkap Ikan (BBPI) dari Kementerian Perikanan dan Kelautan yang turun ke Bengkalis beberapa waktu lalu.

"Kami juga sedang menyusun Ranperda tentang izin penangkapan ikan bersama DPRD Provinsi Riau," aku Nafilson.

Ditemui secara terpisah, Ketua Solidaritas Nelayan Kabupaten Bengkalis (SNKB), Abu Samah kepada GoRiau.com di Sekretariat Walhi Riau, Jalan Cempedak Pekanbaru, Kamis (2/2/2017) mengungkapkan kekecewaannya atas ketidaktegasan pemerintah dalam menerapkan penegakan hukum.

"Lemahnya perhatian pemerintah dalam pengawasan dan penegakan hukum menjadi faktor utama konflik terjadi sudah lebih dari 30 tahun," kata Abu Samah.

Lanjutnya, aktivitas tangkap jaring batu terus berlangsung hingga kini menyebar sepanjang wilayah perairan Kabupaten Bengkalis.Ini mengakibatkan nelayan tradisional yang berada di Kecamatan Bantan, Kecamatan Bengkalis, Kecamatan Bukit Batu, Kecamatan Siak Kecil, Kecamatan Rupat, dan Kecamatan Rupat Utara tidak mendapatkan hasil tangkapan ikan.

"Kami hanya ingin memperjuangkan hak kami sebagai nalayan lokal. Kami juga punya keluarga yang harus dihidupi," kata Abu.

Disampaikan Abu, bahwa kenyamanan dan keamanan nelayan tradisional di Bengkalis dalam mencari nafkah pun menjadi terancam.Tak ayal, banyak nelayan yang menganggur dan beberapa diantaranya harus pontang-panting beralih profesi lantaran tidak mendapatkan apa-apa saat melaut karena ikan semakin susah didapat.

"Kami sering pulang melaut dengan tangan hampa. Jumlah ikan kurau dan ikan malung semakin susah didapat," urainya. ***

Kategori:Voli, Riau, Badminton
wwwwww