Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
2
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Metropolitan
13 jam yang lalu
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
3
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
Kemenpora
9 jam yang lalu
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
4
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
Sepakbola
8 jam yang lalu
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
5
Rizky Ridho Sebut TC di Bali Perkuat Kekompakan Timnas Indonesia
Sepakbola
8 jam yang lalu
Rizky Ridho Sebut TC di Bali Perkuat Kekompakan Timnas Indonesia
Home  /  Berita  /  Badminton

Setnov Tersangka KPK, Ini Kata Ray Rangkuti Soal Pendamping Jokowi 2019

Setnov Tersangka KPK, Ini Kata Ray Rangkuti Soal Pendamping Jokowi 2019
Istimewa.
Selasa, 18 Juli 2017 11:39 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Setelah Ketua Umum Golkar Setya Novanto dijadikan tersangka dalam kasus e-KTP oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), maka yang berpeluang mendampingi Jokowi di Pemilu 2019 di internal parpol koalisi pendukung pemerintah sebagai Cawapresnya antara lain menurut Ray Rangkuti adalah Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar.

Hanya saja PKB harus kerja keras untuk mendulang suara pemilu khususnya di luar Jawa.

"Ya, yang berpeluang di internal parpol koalisi pendukung pemerintah pasca Setya Novanto dijadikan tersangka oleh KPK, memang Muhaimin Iskandar. Masalahnya, sanggupkah PKB kerja keras untuk meningkatkan elektabilitas Cak Imin sebagai Cawapresnya Jokowi di 2019 itu," tegas Direktur Lima, Ray Rangkuti pada wartawan di Jakarta, Selasa (18/7/2019).

Menurut Ray, ketika UU Pemilu nantinya diputuskan dengan ambang batas atau presidential threshold (PT) pencapresan itu 10 % - hingga 15 %, setidaknya akan ada 5 pasangan Capres yang akan bertarung di pemilu 2019 itu.

Tapi, ambang batas itu tidak menjadi alasan utama seseorang bisa nyapres atau tidak. Mengapa? Karena semua akan kembali pada elaktabilitas.

"Jadi, PKB harus kerja keras untuk meningkatkan elektabilitasnya Cak Imin tersebut. Memang, bisa disebut mewakili basis massa NU, juga harus mampu meyakinkan para kiai NU khususnya para kiai sepuh yang sangat disegani di NU. Selain itu, penyebaran basis massa di luar NU khususnya di luar Jawa," ujar alumni UIN Syahid Jakarta ini.

Sebelumnya parpol koalisi pendukung pemerintah (PDIP, Golkar, PKB, PPP, NasDem, dan Hanura) siap mengusung Jokowi kembali sebagai Capres di pemilu 2019. Golkar salah satu parpol yang aktif dan terus mendorong Jokowi sebagai capres 2019 tersebut.

Namun, setelah Setya Novanto yang juga Ketua DPR RI dijadikan tersangka kasus e-KTP oleh KPK pada Senin (17/7/2017) malam, maka kader di internal parpol koalisi yang berpeluang antara lain Abdul Muhaimin Iskandar. Bagaimana langkah Golkar selanjutnya? "Kita tunggu saja," pungkas Ray Rangkuti. ***

wwwwww