Loading...    
           

Diduga Ada Paksaan Teken Surat PHK, Ribuan Karyawan Indosat Gelar Aksi di Sejumlah Provinsi

Diduga Ada Paksaan Teken Surat PHK, Ribuan Karyawan Indosat Gelar Aksi di Sejumlah Provinsi
Aksi unjuk rasa karyawan Indosat di Jakarta. (istimewa)
Kamis, 08 Februari 2018 15:22 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Ada ratusan karyawan Indosat yang terancam di PHK. Bahkan menurut mereka, pihak perusahaan juga ada indikasi memaksa para karyawan untuk melakukan tandatangan PHK secara sepihak.

Pihak Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK Indonesia) pun menyatakan dukungan penuh kepada Serikat Pekerja Indosat yang hari ini (Kamis, 8/2/2018) melakukan aksi unjuk rasa serentak di kantor pusat dan kantor-kantor cabang di seluruh Indonesia, antara lain Jawa Timur, Jawa Tengah, Medan, Sulawesi Makassar, Papua, dan kota lain di sejumlah Provinsi di Indonesia.

Aksi tersebut merupakan cara para karyawan memperjuangkan hak-hak pekerja dan jaminan keberlangsungan pekerjaan bagi rakyat Indonesia di Indosat.

Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal ASPEK Indonesia Sabda Pranawa Djati, kepada GoNews.co, Kamis (8/2/2018) melalui siaran persnya di Jakarta.

Sabda juga mengungkapkan, berdasarkan laporan yang masuk ke ASPEK Indonesia, ada potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal bakal terjadi lagi di Indosat terhadap lebih dari 200 orang pekerja tetap Indosat.

Beberapa diantaranya saat ini terindikasi berada dalam tekanan untuk menanda-tangani PHK tersebut. Di perkirakan jumlah pekerja yang akan di-PHK akan terus bertambah karena akan menyasar hampir seluruh direktorat yang ada di Indosat.

Anehnya, ungkap Sabda, pada saat yang bersamaan saat ini juga terjadi proses rekrutmen pekerja secara besar-besaran yang dilakukan oleh HRD Indosat.

Ia menduga, kasus ini adalah modus yang dilakukan Indosat untuk "menghabisi" pekerja tetap dan mengganti dengan pekerja baru yang hanya berstatus pekerja kontrak bahkan hanya tenaga outsourcing.

"Perusahaan hanya berorientasi pada upaya mengejar laba semata namun dengan cara menekan biaya untuk sumber daya manusia. Dampaknya tidak ada lagi job security atau jaminan kepastian pekerjaan bagi rakyat Indonesia yang bekerja di perusahaan yang dulunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini," ujarnya.

Lanjut dia, Inilah antara lain dampak dari penjualan BUMN kepada asing, sehingga manajemen asing bersikap sewenang-wenang terhadap anak bangsa Indonesia yang bekerja di Indosat.

Persoalan lain yang disoroti ASPEK Indonesia adalah dominasi Tenaga Kerja Asing (TKA) yang sudah sangat mengkhawatirkan, karena masuk ke jenis pekerjaan yang sesungguhnya masih bisa dilakukan oleh pekerja dari Indonesia.

"Bahkan secara kapasitas sesungguhnya tidak lebih baik dibanding tenaga kerja Indonesia yang ada, namun TKA mendapat penghasilan yang besarnya berkali lipat dibanding tenaga kerja Indonesia," paparnya.

Untuk itu, ASPEK Indonesia menyayangkan sikap manajemen Indosat yang tidak memaksimalkan dialog dengan Serikat Pekerja Indosat terkait pengelolaan sumber daya manusia di Indosat. Padahal antara perusahaan dengan Serikat Pekerja Indosat telah ditandatangani Perjanjian Kerja Bersama yang seharusnya dilaksanakan secara konsekuen.

"Keterlibatan Serikat Pekerja Indosat dalam setiap proses bisnis perusahaan menjadi sangat penting untuk memaksimalkan solusi yang terbaik, dan yang utama adalah komitmen para pihak untuk melakukan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan perusahaan yang akan berdampak pada pekerja," tandasnya.

Dia juga menyampaikan, permasalahan di Indosat telah disampaikan langsung kepada Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, saat ASPEK Indonesia melakukan audiensi dengan Menteri Ketenagakerjaan pada hari Selasa 6 Februari 2018 kemarin.

"Dalam kesempatan itu, Menteri berjanji akan menindaklanjuti laporan dengan menugaskan dua Direktur Jenderal di Kementerian Ketenagakerjaan (Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Dirjen Pengawasan) untuk memeriksa perusahaan Indosat dan juga perusahaan lain seperti PT XL Axiata yang juga sedang melakukan PHK massal dan sepihak," pungkasnya. ***


       
        Loading...    
           
wwwwww