Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
Kemenpora
14 jam yang lalu
Menpora Erick Minta Dunia Fotografi Harus Bertransformasi di Pameran Foto Spirit de Indonesia
2
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
Sepakbola
13 jam yang lalu
Persijap Yakin Segara Bangkit Usai Gagal Kalahkan Garudayaksa FC
3
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
Metropolitan
21 jam yang lalu
Prakiraan Cuaca BMKG Jabodetabek, Hujan Berpeluang Turun Mulai Sore hingga Malam Hari Ini
4
Ivan Mamut Pastikan Kemenangan Persija atas Persebaya
Sepakbola
13 jam yang lalu
Ivan Mamut Pastikan Kemenangan Persija atas Persebaya
5
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
Metropolitan
19 jam yang lalu
‎Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Arena Tinju Kampung Melayu
6
Rizky Ridho Sebut TC di Bali Perkuat Kekompakan Timnas Indonesia
Sepakbola
14 jam yang lalu
Rizky Ridho Sebut TC di Bali Perkuat Kekompakan Timnas Indonesia
Home  /  Berita  /  Sumatera Utara

Bahasa Jawa Semakin Tertinggal Oleh Perkembangan Zaman

Bahasa Jawa Semakin Tertinggal Oleh Perkembangan Zaman
Sabtu, 03 Maret 2018 14:04 WIB

MEDAN - Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa ibu di Indonesia yang sangat menjunjung tinggi etika dalam berkomunikasi. Tidak hanya secara verbal, juga pakem dan cara penyampaiannya.

Namun di tanah perantauan, khususnya Medan, karena tuntutan dan adaptasi, bahasa Jawa itu sering mengalami degradasi, yang pada akhirnya berdampak pada perubahan makna. Akibatnya juga sering berpengaruh pada konteks etika.

Misalnya di Jawa ketika seseorang berbicara kepada orang yang usianya lebih tua atau yang lebih tinggi secara hirarkis, wajah orang tersebut tunduk dan dengan nada bicara yang halus. Tapi di Medan, orang Jawa malah sering ada yang lebih "galak" dibandingkan dengan orang Medan.

Hal itu dijelaskan pimpinan Komunitas Jede, Yono USU. Pegiat budaya Jawa sekaligus peneliti Jawa Deli ini mengaku telah melakukan penelitian akan hal itu.

Ia pun berkesimpulan bahwa bahasa Jawa di Medan khususnya di Tanah Deli, telah mengalami beberapa kali proses nilai.

Karenanya, Bahasa Jawa di Medan sulit untuk didudukkan dalam konteks etika. Hal itu dikarenakan di Medan standar norma bahasa Jawa telah mengalami beberapa tahap pergeseran nilai.

"Dari kromo Inggil (bahasa halus) menjadi sekedar kromo (bahasa Jawa umum) kemudian diturunkan lagi menjadi ngoko (bahasa Jawa "pasaran") dan kemudian diturunkan lagi dengan bahasa Jawa yang telah bercampur aduk dengan bahasa lain yang ada di Medan untuk kemudian menghasilkan bahasa Jawa yang unik. Istilah saya Bahasa Jawa Deli. Itu memang sifat bahasa, adaptif dan fleksibel. Tergantung di mana kita berada dan peruntukannya," ucapnya.

Editor:wen
Sumber:medanbisnis
Kategori:Sumatera Utara, PON
wwwwww