Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Heboh Daging Kurban Bergerak Sendiri, Begini Penjelasan Direktur Halal Research Center UGM
GoNews Group
23 jam yang lalu
Heboh Daging Kurban Bergerak Sendiri, Begini Penjelasan Direktur Halal Research Center UGM
2
Laut Cina Selatan Memanas, Wakil Ketua MPR : Perkuat Pertahanan Negara
MPR RI
15 jam yang lalu
Laut Cina Selatan Memanas, Wakil Ketua MPR : Perkuat Pertahanan Negara
3
Bikin Video Prank Daging Kurban Isi Sampah, 2 Warga Palembang Diancam Hukuman 10 Tahun Penjara
Peristiwa
16 jam yang lalu
Bikin Video Prank Daging Kurban Isi Sampah, 2 Warga Palembang Diancam Hukuman 10 Tahun Penjara
4
Toyota Astra Recall 36.000 Alphard, Innova, Fortuner, Corolla, Cruiser dan Hilux, Ini Masalahnya
GoNews Group
16 jam yang lalu
Toyota Astra Recall 36.000 Alphard, Innova, Fortuner, Corolla, Cruiser dan Hilux, Ini Masalahnya
5
Bertambah 1.679, Total Kasus Covid-19 di Indonesia 113.134
Kesehatan
17 jam yang lalu
Bertambah 1.679, Total Kasus Covid-19 di Indonesia 113.134
6
Soal Ancaman Gelombang Kedua Covid 19, Sukamta: Bisikan dari Tim Ahli Mana
Umum
15 jam yang lalu
Soal Ancaman Gelombang Kedua Covid 19, Sukamta: Bisikan dari Tim Ahli Mana
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Oso: Orang Bali di Sukadana Sangat Toleran

Oso: Orang Bali di Sukadana Sangat Toleran
Oesman Sapta Odang saat menerima wawancara awak media. (Istimewa)
Rabu, 14 Maret 2018 22:30 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
KAYONG UTARA - Usai menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar MPR di Sukadana, Kayong Utara, Kalimantan Barat, Rabu (14/3/2018), Wakil Ketua MPR Oesman Sapta mengunjungi desa Sedahan Jaya, desa yang penduduknya berasal dari Bali.

Kedatangan Oesman Sapta disambut dengan tarian Bali. "Saya tahu ada desa Bali di Sukadana. Makanya saya ajak Gede Pasek Suardika yang orang Bali," kata Oso, sapaan akrab Oesman Sapta, di depan warga Bali Desa Sedahan Jaya.

Menurut Oso, orang Bali datang ke Sukadana tahun 1960-an, tepatnya ketika Gunung Agung di Bali meletus tahun 1963. Para pendatang dari Bali ini bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat.

"Sama persis seperti kalau ke Bali kita menyesuaikan dengan adat istiadat setempat. Begitu juga dengan orang Bali melakukan penyesuaian di Sukadana, tepatnya di Desa Sedahan Jaya," jelas Oso.

Oso bangga dengan toleransi yang ditunjukkan warga Bali di Sukadana. "Saya dengar dari kepala desa. Warga Bali di desa ini memiliki toleransi yang luar biasa. Mereka tidak pernah menimbulkan keributan," kata Oso.

Toleransi juga ditunjukkan masyarakat Sukadana. Tidak ada persoalan agama. Baik agama Hindhu maupun Islam yang mayoritas bisa hidup berdampingan dan rukun di Sukadana.

"Mereka bisa menyatu padu dan hidup damai serta mengerjakan sesuatu secara bersama-sama," ujar Oso.

Oso menegaskan siapa saja yang mengganggu kerukunan di Sukadana akan berhadapan dengannya. "Awas, siapa saja yang mengganggu mereka (warga Bali) akan berhadapan dengan saya. Tidak boleh ada SARA di desa ini," tandas Oso.

Di Desa Sedahan Jaya tercatat sebanyak 126 kepala keluarga dengan jumlah 476 jiwa. Mereka adalah generasi kedua.

Sementara itu Gede Pasek melihat warga Bali di Desa Sedahan Jaya ini sudah betah tinggal di Sukadana. "Saya melihat mereka menikmati hidup di sini," ujarnya.

"Tadi saya tanya apakah pernah pulang ke Bali atau tidak. Mereka pernah pulang tapi tetap ingin balik ke Sukadana. Ini menandakan mereka betah di sini," sambungnya.

Anggota MPR dari Bali ini berharap warga Bali bisa terus berkembang bersama masyarakat setempat. "Bisa menjaga kerekatan persaudaraan, kekeluargaan, dan kebersamaan dengan maayarakat setempat," ujarnya.***


wwwwww