Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
9 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
9 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
10 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
11 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
11 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
17 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Home  /  Berita  /  Badminton

Ditanya Poros Ketiga, Zulhasan: Kalau Saya Koalisi Nasional

Ditanya Poros Ketiga, Zulhasan: Kalau Saya Koalisi Nasional
Kamis, 12 April 2018 09:23 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Ketua MPR Zulkifli Hasan kembali menyampaikan gagasan mengenai koalisi nasional. Menurut Zulkifli Hasan, koalisi nasional ini adalah koalisi yang rasional, berkualitas, mempersatukan, dan menjahit kembali merah putih.

Hal ini disampaikan Zulkfili Hasan ketika ditanya soal Poros ketiga, dalam diskusi dengan wartawan parlemen di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (11/4/2018).

"Yang saya gagas adalah Koalisi Nasional- Kita tidak ingin bangsa ini dipecah-pecah. Kita tidak ingin ada kelompok pro dan kelompok anti. Kita tidak mau seperti itu," kata Pria asal Lampung Sumatera ini.

Zulhasan, sapaan Zulkifli Hasan, mengungkapkan koalisi nasional yang digagas itu bukanlah koalisi yang akan memecah belah anak bangsa. Fenomena perpecahan itu seperti terlihat dalam diskusi (talk show) di televisi.

"Yang ini kawan, yang di sana lawan. Sudah menyeramkan kita melihatnya. Kita tidak seperti itu," ujarnya prihatin.

Menurut Zulhasan, Pilkada (pemilihan bupati atau gubernur), pemilihan presiden (Pilpres) adalah sebuah kontestasi dalam era demokrasi.

"Jadi kontestasi itu adalah hal yang biasa. Jadi bukan seperti menghadapi musuh. Bukan seperti menghadapi Belanda. Kontestasi ini adalah kontestasi antar kawan, antar anak negeri,” kata Zulhasan.

Karena itu, lanjut Zulhasan, pilihan dalam Pilkada atau Pilpres boleh beda-beda. Tapi, Pilkada dan Pilpres harus dimaknai sebagai kontestasi untuk berbuat yang terbaik untuk NKRI dan memperat persatuan. Dalam kontestasi itu saling menghormati, menghargai dan beradu program.

"Rakyat mendapat pemimpin yang amanah. Program-program dan konsepnya bagus. Kita berharap dalam kontestasi itu masing-masing saling menghormati, menghargai, dan beradu program," ucapnya. ***

wwwwww