Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
20 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
13 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
11 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
4
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
20 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
5
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
13 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
6
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
13 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Home  /  Berita  /  Riau
Berita Khusus Pilgubri 2018

Potensi Laut di Riau Pesisir Berlimpah tapi Nelayan Masih Miskin, Syamsuar Janji Bawa Perubahan

Potensi Laut di Riau Pesisir Berlimpah tapi Nelayan Masih Miskin, Syamsuar Janji Bawa Perubahan
Syamsuar, Calon Gubernur Riau nomor urut 1.
Senin, 14 Mei 2018 14:46 WIB
Penulis: Ira Widana
ROHIL - Setiap berkunjung ke daerah pesisir di wilayah provinsi Riau, Syamsuar calon gubernur Riau ini sedih karena masih melihat gubuk kusam yang terbuat dari kayu yang mudah lapuk dan sederhana yang menunjukkan guratan kemiskinan nelayan di wilayah pesisir itu.

Ironisnya, potensi sumber daya laut di negeri itu sangat berlimpah, seharusnya nelayan bisa lepas dari jeratan kemiskinan, namun mereka tetap miskin karena pihak luar datang menguasai hasil ikan tangkapan nelayan lokal dan membelinya dengan murah.

Penderitaan nelayan tradisional ini, diperparah ketika musim paceklik pada saat cuaca buruk seperti ombak besar, angin kencang sehingga nelayan tidak melaut. Jika tidak melaut maka tentu tidak ada penghasilan.

Selama ini masyarakat pesisir hanya mengandalkan tangkapan ikan, udang, cumi-cumi untuk dijual kepada toke dari pulau seberang, contohnya di Panipahan, Rokan Hilir.

"Pemerintah harusnya menata kebijakan pembangunan kelautan yang lebih banyak memperhatikan nasib nelayan tradisional. Jika nelayan-nelayan kecil ini dibina, maka mereka akan menjadi tulang punggung kekuatan ekonomi di Riau ini," kata Cagub Riau nomor 1 belum lama ini.

Dikatakannya, sejumlah nelayan mengeluhkan kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan nelayan tradisional, karena hanya memihak pebisnis dan kontraktor perikanan yang bermodal besar. Tentunya ini berpotensi menyebabkan kriminalisasi nelayan.

"Kami berkomitmen mensejahterakan nelayan tradisional di Riau ini. Kebijakan yang ada akan kita tinjau ulang kembali. Karena kita melihat selama ini yang diuntungkan itu pemilik kapal, sementara nelayan kita hanya diposisikan sebagai buruh. Harusnya bantuan program untuk nelayan itu tepat sasaran," sebutnya lagi. ***

Kategori:Metropolitan, Riau
wwwwww