Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
KONI
22 jam yang lalu
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
2
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
KOI
22 jam yang lalu
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
3
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
Hukum
9 jam yang lalu
Pemuda LIRA Desak Polri Terapkan Pasal Hukuman Mati Penyadap Presiden
4
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
10 jam yang lalu
BMKG Ramalkan Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini
5
KONI Pusat Ajak Kementerian/Lembaga Bersinergi Sukseskan PON Pantai 2026
KONI
22 jam yang lalu
KONI Pusat Ajak Kementerian/Lembaga Bersinergi Sukseskan PON Pantai 2026
6
Motivasi Tinggi PSIM Yogyakarta Jamu Dewa United FC
Sepakbola
21 jam yang lalu
Motivasi Tinggi PSIM Yogyakarta Jamu Dewa United FC
Home  /  Berita  /  Sumatera Utara

Inilah 3 Aspek dalam UU Terorisme yang Terbaru

Inilah 3 Aspek dalam UU Terorisme yang Terbaru
Sabtu, 26 Mei 2018 10:07 WIB
MEDAN - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Suhardi Alius, mengatakan bahwa UU Terorisme terlengkap di dunia merupakan milik Indonesia.

Hal tersebut dikatakan Suhardi setelah pengesahan Revisi Undang-Undang (RUU) No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (Antiterorisme) menjadi undang-undang.

?"UU terorisme yang diketok dan disahkan ini adalah UU terlengkap anti teror di seluruh dunia," kata Suhardi di Medan.

Mantan Kapolda Jawa Barat ini menjelaskan, undang-undang tersebut mengandung tiga aspek yaitu pencegahan, penegakan hukum atau penindakan dan perlindungan terhadap korban dan kompensasinya.

Kedatangan Kepala BNPT ke Medan untuk menghadiri buka puasa bersama bersama mantan narapidana terorisme (napiter) yang ada di Sumatera Utara.

Suhardi Alius yang didampingi oleh anggota Komisi III DPR RI, Raden Muhammad Syafii, mengungkapkan bahwa pencegahan dan pemberantasan terorisme bukan tugas pemerintah, BNPT dan Polri semata, namun semua kalangan masyarakat.

"Belum ada di dunia ini UU terorismenya yang lengkap seperti ini. BNPT mengedepankan deradikalisasi dan pencegahannya. Kita bersilaturahmi dalam rangka itu. Bagaimana kita bersatu, bagaimana bangsa ini baik," ungkapnya.

Suhardi juga mengungkapkan bahwa program ?deradikalisasi dan pencegahan dilakukan di dalam lapas yang dihuni napi terorisme dan di luar lapas. Menurutnya, untuk memastikan seorang terduga teroris tidak melakukan tindakan terorisme lagi, memerlukan waktu yang cukup lama.

"Ada mantan napi terorisme yang belum mengalami deradikalisasi, akan mengulangi perbuatannya kembali. Seperti bom Thamrin dan Bom Samarinda. Itu adalah mantan napi terorisme namun belum kena program deradikalisasi," pungkasnya. ***

Editor:Wen
Sumber:Analisa
Kategori:PON, Sumatera Utara
wwwwww