Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
Nasional
19 jam yang lalu
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
2
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
Sepakbola
17 jam yang lalu
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
3
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
Kemenpora
21 jam yang lalu
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
4
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
Kemenpora
21 jam yang lalu
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
5
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
Basket
23 jam yang lalu
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
6
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
DKI Jakarta
19 jam yang lalu
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
Home  /  Berita  /  Badminton

Pemilu 2019 Ladang Pembantaian Parpol Kecil dan Menengah, Fahri: Bisa Saja Hanura dan PPP Hilang

Pemilu 2019 Ladang Pembantaian Parpol Kecil dan Menengah, Fahri: Bisa Saja Hanura dan PPP Hilang
Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah. (GoNews.co/Muslikhin)
Selasa, 31 Juli 2018 14:28 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Pemilihan presiden dan anggota legislatif yang berlangsung serentak di Pemilu 2019 mendatang, diprediksi bakal menjadi ladang pembantaian bagi partai-partai politik kecil dan menengah. Karena pada pemilu 2019, partai harus berlomba-lomba meningkatkan popularitasnya di mata pemilih.

Perdiksi ini disampaikan Wakil Ketua DPR dari Fraksi PKS, Fahri Hamzah kepada wartawan di Gedung DPR RI, Selasa (31/7/2018), diminta komentarnya soal pilpres 2019 mendatang.

Lanjut Fahri, parpol menengah dan kecil bisa terpuruk dan kalah bersaing pada Pemilu 2019 mendatang, jika tidak mampu meningkatkan popularitasnya di mata pemilih. Salah satunya dengan memperjuangkan kader internal mereka maju di Pilpres 2019.

"Orang lupa bahwa pemilu 2019 itu adalah ladang pembantaian bagi partai kecil dan menengah. Itu sadis, nanti partai habis tuh," cetus anggota DPR asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu lagi.

Fahri menambahkan, jika partai tidak punya perwakilan di bursa Pilpres, maka akan merugikan partai tersebut. Karena ada riset, yang konsisten siapa yang punya calon.

"Dia (partai) mendapat limpahan suara dari popularitas kandidat, itulah semua partai mengejar keterwakilan. Saya kira itu bisa dimengerti," cetusnya.

Menurut pengamatannya, publik saat ini akan memilih partai bergantung pada preferensi capres dan cawapres yang akan diusung. Situasi itu membuat publik tidak bisa mendalami lebih jauh tentang partai dan calon legislatif yang diusung.

"Kira-kira begini, ini ada pemilihan 575 anggota DPR, ribuan anggota DPRD dan DPD versus dua atau tiga pasangan (Pilpres 2019). Kira-kira perhatian orang kemana? Perhatian orang ke presidennya ke wapresnya," tuturnya.

Karena itu, masih menurut Fahri, jika tidak ada perwakilan partai pada bursa Pilpres 2019, maka akan berdampak buruk pada perolehan suara dan popularitas partai.

"Bisa dibayangkan, kalau di situ tidak ada cermin dari partai politik maka partai itu bisa hilang kalau enggak jadi," katanya sambil mencontohkan PDI-P dan Gerindra akan jauh lebih unggul dibandingkan partai lainnya, karena keduanya memiliki figur kuat yang diusung, yaitu Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Bahkan, kuatnya figur tersebut akan mendongkrak perolehan suara dan popularitas ke dua partai tersebut. Namun, hal itu dinilainya tak berlaku bagi partai lain sebagai pengusung.

"Bisa-bisa Hanura, PPP hilang, enggak tahu kalau Nasdem. Yang sisa itu Golkar jatuh, satu lagi PKB. Begitu juga partai oposisi seperti PKS, PAN, Gerindra, Demokrat kalau yang enggak punya kandidat bisa hilang apalagi partai baru," pungkasnya.***

wwwwww