Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
23 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
2
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
21 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
3
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
KONI
17 jam yang lalu
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
4
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
Umum
21 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
5
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
KOI
18 jam yang lalu
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
6
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Hukum
22 jam yang lalu
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Home  /  Berita  /  Riau

Warga Kuansing Mulai Kesulitan Membawa Jalur ke Tepian Narosa, Ini Sebabnya

Warga Kuansing Mulai Kesulitan Membawa Jalur ke Tepian Narosa, Ini Sebabnya
Tepian Narosa Telukkuantan sudah dipenuhi tribun komersil.
Senin, 27 Agustus 2018 19:01 WIB
Penulis: Wirman Susandi
TELUKKUANTAN - Masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing), Riau yang berada di bagian hilir mengaku kesulitan membawa jalur ke Tepian Narosa Telukkuantan. Pasalnya, kondisi Sungai Kuantan saat ini sangat dangkal ditambah banyaknya bekas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

"Kami kesulitan membawa jalur ke Telukkuantan. Banyak hamburan dompeng, terutama di Sentajo dan Pangean," ujar Putra, warga Kuansing, Senin (27/8/2018) di Tepian Narosa Telukkuantan.

Bekas PETI, lanjut Putra, juga memicu terjadinya pendangkalan Sungai Kuantan. Kendati rakit PETI sudah berkurang, namun dampaknya terhadap sungai sangat dirasakan masyarakat.

"Kalau di Pangean tak ada lagi aktivitas PETI, tapi sungainya rusak. Hamburan dompeng menyulitkan kami membawa jalur," ujar Putra.

"Di dekat jembatan gantung juga sangat dangkal. Ini jelas membahayakan jalur yang usai berpacu," ujar Putra. Dangkalnya dekat jembatan gantung hanya berjarak beberapa meter dari pancang finish.

Warga berharap, pemerintah semakin serius dalam memberantas PETI karena bisa mengancam kebudayaan pacu jalur. "Kalau sungai rusak, dimana lagi kita melaksanakan pacu jalur."

"Mudah-mudahan semua masyarakat Kuansing sadar akan bahaya PETI dan pemerintah serius dalam menormalisasi sungai," tutupnya. ***

Kategori:PON, Riau
wwwwww