Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pencurian Tiga Buah Tandan Sawit Berujung di Pengadilan, DPRD Riau Segera Panggil PTPN V
Hukum
21 jam yang lalu
Pencurian Tiga Buah Tandan Sawit Berujung di Pengadilan, DPRD Riau Segera Panggil PTPN V
2
Demokrat: Batalkan Proses Hukum Ibu Tiga Anak Pencuri 3 Tandan Buah Sawit, Kami Ganti 10 Tandan
Hukum
21 jam yang lalu
Demokrat: Batalkan Proses Hukum Ibu Tiga Anak Pencuri 3 Tandan Buah Sawit, Kami Ganti 10 Tandan
3
VIRAL! Ibunya Dimakamkan Ala Covid-19 Padahal Negatif, Anak Histeris Cegat Mobil Jenazah
Peristiwa
11 jam yang lalu
VIRAL! Ibunya Dimakamkan Ala Covid-19 Padahal Negatif, Anak Histeris Cegat Mobil Jenazah
4
Diduga Cabuli Pegawai Honorer, Anak Bupati Labuhanbatu Dipolisikan
Hukum
17 jam yang lalu
Diduga Cabuli Pegawai Honorer, Anak Bupati Labuhanbatu Dipolisikan
5
Ini Tiga Masalah Dibalik Kebijakan New Normal Menurut Fadli Zon
Politik
20 jam yang lalu
Ini Tiga Masalah Dibalik Kebijakan New Normal Menurut Fadli Zon
6
Misbakhun Yakin New Normal Akan Bangkitkan Ekonomi Nasional di Masa Pandemi Covid-19
Politik
21 jam yang lalu
Misbakhun Yakin New Normal Akan Bangkitkan Ekonomi Nasional di Masa Pandemi Covid-19
Home  /  Berita  /  Riau

Kemenag Keluarkan SE Penggunaan Pengeras Suara di Mesjid, Langgar dan Mushalla, Darwison: Ini Seperti Makan Buah Simalakama

Kemenag Keluarkan SE Penggunaan Pengeras Suara di Mesjid, Langgar dan Mushalla, Darwison: Ini Seperti Makan Buah Simalakama
Selasa, 28 Agustus 2018 19:37 WIB
Penulis: Safrizal
SELATPANJANG - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI mengeluarkan surat edaran Nomor : B.3940/DJ.III/Hk.00.7/08/2018.

Surat edaran itu mengatur tentang pelaksanaan intruksi Dirjen Bimas Islam Nomor: KEP/D/101/1978 tentang tuntutan penggunaan pengeras suara di Masjid, Langgar, dan Mushalla.

SE Nomor : B.3940/DJ.III/Hk.00.7/08/2018 ini dikeluarkan di Jakarta tanggal 24 Agustus 2018 dan ditandatangani Direktur Jenderal Muhammadiyah Amin.

Menanggapi hal ini, Kakan Kemenag Kepulauan Meranti Darwison mengaku belum mempelajari SE tersebut. Setelah dipelajari dengan seksama, Kemenag akan mengadakan rapat dengan pemuka agama, dan pihak-pihak lainnya.

"Kan setiap daerah tidak sama. Ada yang langsung menerima dan ada pula yang tidak," kata Darwison.

"Seperti Meranti dan Tembilahan, tentu kultur masyarakat tidak sama," tambahnya.

Surat Edaran ini pun seperti makan buah simalakama. Tak mungkin interuksi dari Kemenag RI tidak diteruskan ke masyarakat bawah, di satu sisi ia khawatir kalau salah penyampaian akan salah pula tanggapan dari masyarakat.

Untuk itu, kata Darwison lagi, ia harus hati-hati dalam memberikan pemahaman ke masyarakat tentang SE Nomor : B.3940/DJ.III/Hk.00.7/08/2018. Sebab, selama ini toleransi beragama di Kota Sagu sudah sangat tinggi.

"Tentu anjuran menteri harus kita laksanakan. Namun menyesuaikan situasi di lapangan. Nanti dibilang pula Kemenag melarang adzan. Harus hati-hati kita menangani masalah ini," ujar Darwison. ***


wwwwww