Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ardhi Tjahjoko Optimistis Persija Bisa Tampil Maksimal Hadapi Persebaya
DKI Jakarta
24 jam yang lalu
Ardhi Tjahjoko Optimistis Persija Bisa Tampil Maksimal Hadapi Persebaya
2
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
9 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
3
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
10 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
4
BMKG Prakirakan Hujan Membasahi Sejumlah Wilayah Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Hujan Membasahi Sejumlah Wilayah Jabodetabek Hari Ini
5
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
KOI
10 jam yang lalu
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
6
‎Bank Jakarta Banjir Pembukaan Rekening, Dana Rp5 Miliar Terhimpun di FinFest
Ekonomi
13 jam yang lalu
‎Bank Jakarta Banjir Pembukaan Rekening, Dana Rp5 Miliar Terhimpun di FinFest
Home  /  Berita  /  Badminton

Dianggap Semakin Liar, Fahri Hamzah Sarankan Jokowi Ambil Alih KPK

Dianggap Semakin Liar, Fahri Hamzah Sarankan Jokowi Ambil Alih KPK
Selasa, 09 Oktober 2018 19:25 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah kembali menyuarakan agar Presiden Jokowi segera mengambil alih kepemimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi/KPK. Sebab kalau tidak segera diambil alih, lembaga antirasuah yang dipimpin Agus Rahardjo itu bisa semakin liar.

"Jadi, kepemimpinan di KPK itu sudah harus diambilalih oleh presiden, supaya dibikin tenang sampai selesai pilpres," kata Fahri kepada awak media di Media Center Gedung Nusantara III DPR RI, Selasa (9/10/2018).

Pernyataan ini dilontarkan Fahri, menyusul adanya rilis hasil investigasi sejumlah media nasional yang menamakan diri sebagai Indonesialeaks, mengenai kasus korupsi yang diduga melibatkan para petinggi penegak hukum di negeri ini. Mereka juga mencium adanya indikasi kongkalikong untuk menutupi rekam jejak kasus tersebut.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah disebutnya nama Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian, dimana dalam suatu dokumen menyebut bahwa yang bersangkutan tercatat paling banyak mendapat duit dari pengusaha Basuki Hariman, langsung maupun melalui orang lain baik ketika menjabat sebagai kapolda Metro, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada Maret-Juli 2016 maupun ketika sudah dilantik sebagai Kapolri.

Melanjutkan pernyataannya, Fahri Hamzah menyatakan hanya ingin bicara konstruktif tentang metode pemberantasan koupsi, dan selalu ingin agar evaluatif terhadap kondisi sekarang. Pasalnya, hingga saat ini tidak ada yang terlalu peduli terhadap pembentaran korupsi, temasuk pada calon pesiden yang ada sekarang ini.

"Kalau saya memandang, apa yang secara terus menerus terjadi kepada KPK itu meyakinkan saya bahwa ini lah waktunya untuk melakukan evaluasi tehadap KPK. Karena apa yang terjadi di KPK itu, sebetulnya telah menyebabkan KPK begitu banyak menyimpan problem-problem mendasar di dalamnya, seperti komflik antar kelompok, konflik antara di dalam dengan yang di luar KPK. Termasuk kepentingan-kepentingan yang menyebabkan KPK itu harus memilih antara kasus-kasus yang ditegakan, dan ada yang disembunyikan, ada yang ingin dibuka, tetapi ditahan dan seterusnya," bebernya.

Bahkan, politis dari PKS itu menuturkan, setidaknya dalam sebulan ini ada dua isu besar yang tengah membelit KPK, yaitu bocornya dokumen penyelidikan seorang gubenur, kemudian ada lagi bocornya dokumen adanya upaya untuk menghilangkan barang bukti di dalam KPK itu sendiri.

"Belum lagi ada kasus gugatan ke PTUN oleh Serikat Pekerja KPK, yang menandakan bahwa ada konflik di dalamnya. Justu sebenarnya ini masalah yang harus diselesaikan," ujarnya.

Karena itu sekarang ini, mau tidak mau presiden harus telibat dan tidak bisa lagi lepas tangan terhadap permasalahan yang ada di KPK ini. Dan untuk kasus yang satu ini, menurut Fahri tidak bisa dibiarkan, karena menyangkut kredibilitas banyak lembaga, KPK nya sendiri, kepolisian sendiri.

"Presiden harus terlibat. Saya terus terang, yang sangat mengkhawatirkan ini berefek kepada Pilpres, berefek kepada kandidat. Dan ini juga menyankut reputasi Jokowi yang sedang dipesoalkan karena semua orang yang kena ini, berada disekitarnya," tambah dia lagi.

Sebab, lanjut Fahri lagi, tidak mungkin jika orang-orahng disekitar Presiden Jokowi kena masalah, lantas Jokowi tidak apa-apa? "Nggak ada orang bersih sendiri, kalau disekitarnya kotor. Ini ujian bagi kita bagaimana menghadapi isu ini korupsi ke depan," pungkas politisi asla NTB itu.***

wwwwww