Pasca Era Kerajaan, Siak Jadi Daerah Miskin dan Tertinggal, Tapi di Era Otonomi Sudah tak Ada Jalan Berminyak

Pasca Era Kerajaan, Siak Jadi Daerah Miskin dan Tertinggal, Tapi di Era Otonomi Sudah tak Ada Jalan Berminyak
Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, Siak Sri Indrapura
Minggu, 02 Desember 2018 07:51 WIB
Penulis: Astri Jasiana Nindy
PEKANBARU - Siak yang dulu merupakan pusat kerajaan Siak Sri Indrapura, kerajaan Islam yang termashur di pesisir timur, mengalami kemunduran pasca orde lama dan baru. Daerah ini menjadi miskin dan tertinggal.

Namun seiring perjalanan waktu dan perubahan pemerintahan dari orde baru ke orde reformasi, kini Siak sudah berkembang dan maju.

''Di periode awal saya menjabat Bupati Siak, saya mengikuti pendidikan kepemimpinan selama 21 hari di Bogor. Salah satu pembicaranya Bu Siti Zuhro. Bu Siti menyatakan, otonomi daerah gagal dan hanya melahirkan raja-raja kecil,'' ujar Gubernur Riau Terpilih yang juga Bupati Siak, Syamsuar mengingat cerita pada sambutannya saat menghadiri Pelantikan Pengurus Ikatan Alumni (IKA) Teknik Sipil Universitas Islam Riau (UIR) di Aula Fakultas Ekonomi Kampus UIR Pekanbaru, Sabtu (1/12/2018).

Namun, tambahnya, setelah Siti Zuhro datang ke Siak dan melihat langsung hasil-hasil pembangunan, ia baru kaget. Kemudian menyataan bahwa ternyata setelah otonomi Siak berkembang pesat. 

Syamsuar juga menjelaskan bahwa Siak, dahulunya memang daerah tertinggal dan masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Beberapa infrastruktur seperti jalan, dulunya jauh kalah dibandingkan daerah-daerah lain. Jalan berminyak dan bertanah. Kalau hujan licin dan kalau panas berdebu.

Namun, setelah otonomi, jalan-jalan dapat kita bangun, begitu pun dengan jembatan. Seperti, di Siak Sri Indrapura ada jembatannya megah yang dibangun melalui APBD Siak tanpa bantuan APBN. Tidak hanya itu, masih banyak jembatan lain yang dibangun pemerintah daerah termasuk di Inhil, daerah seribu parit yang memiliki banyak jembatan.

Syamsuar mengajak alumni Fakultas Teknik Sipil UIR agar mampu berkompetisi, tidak hanya bidang sipil dan sains, melainkan memiliki nilai lebih dari disiplin ilmunya. Sampai kapanpun sarjana teknik sipil tetap dibutuhkan oleh daerah seiring dengan meningkatkan kebutuhan pembangunan. 

''Kita harus bangun jalan dan jembatan yang berkualitas, dan untuk itu kita butuh ahli-ahli sipil yang mampu melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan,’’ ujar Syamsuar.

Di luar itu, ia juga mengatakan bahwa di Riau juga memerlukan ahli geologi, planologi dan perkembunan. Sebab, Riau mempunyai potensi sumberdaya alam yang besar, serta lahan sawit di Riau merupakan salah satu terluas di Indonesia, dan juga menyimpan potensi gambut yang besar. Ia juga berpesan kepada Rektor UIR Prof. Syafrinaldi agar memikirkan persoalan potensi ini. 

‘’Potensi ini harus diolah oleh mereka yang ahli di bidangnya. Sayangnya mengapa anak-anak kita justru belajar geologi dan gambut, belajar bagaimana mendeteksi gempa bumi di Pulau Jawa. Saya maunya mereka belajar di Universitas Islam Riau. Tolong Pak Rektor kita pikirkan bersama-sama masalah ini,’’ tambahnya.

Rektor UIR Syafrinaldi menyambut baik atas terbentuknya Pengurus IKA Teknik Sipil. Karena menurutnya, peran alumnu tidak bisa diabaikan begitu saja, bahkan menjadi bagian penting dalam penilaian akreditasi prodi maupun institusi.

''Saya berpesan kepada para alumni supaya menata kegiatan sebaik-baiknya agar kegiatan tersebut dapat menunjang proses peningkatan akreditasi,’’ tegas Rektor.

Sementara acara pelantikan ini dilakukan oleh Dekan Fakultas Teknik Ir. Abdul Kudus Zaini yang diawali pembacaan Surat Keputusan oleh Wakil Dekan III Ir Syawaldi.  Mereka yang dilantik antara lain, Ketua Umum Ikhsan ST MT, Ketua Harian Dedy Zulheri ST MT,  Sekretaris Umum Pahrizal ST,  Wakil Sekretaris Umum David Fernando ST,  Bendahara Uum Rully Fitralistiady ST, Wabendum Anasri ST, Wakil Ketua I Syafrullah ST, Waketua II Marhendri ST, Waketua III Sondra Raharja ST MT,  Waketua IV Faizak Eriza ST dan Waketua V Beni Afrianto ST. Kepengurusan ini juga dilengkapi dengan bidang-bidangnya.  ***

wwwwww