Home > Berita > Umum

Maelo Kayu Jalur, Tradisi yang Terus Dipertahankan Masyarakat Kuansing

Maelo Kayu Jalur, Tradisi yang Terus Dipertahankan Masyarakat Kuansing
Masyarakat Sako Pangean bahu-membahu 'maelo' kayu jalur, Ahad (9/12/2018).
Senin, 10 Desember 2018 09:40 WIB
Penulis: Wirman Susandi
TELUKKUANTAN - Proses pembuatan sebuah jalur tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan kerjasama semua masyarakat untuk membuat jalur bisa dipacukan.

Salah satu proses yang sulit adalah menarik kayu jalur dari dalam hutan ke pemukiman masyarakat. Seperti yang dilakukan masyarakat Sako Pangean, Ahad (9/12/2018) kemaren. Ratusan orang turun ke hutan untuk menarik kayu sepanjang lebih kurang 35 meter.

Diperkirakan, ada sekitar 300 orang yang datang untuk menarik kayu tersebut. Ini juga membuktikan bahwa semangat gotong royong masih tertanam di masyarakat Kuansing. Tanpa kekompakan, mustahil kayu tersebut sampai ke pemukiman.

Bagi masyarakat Kuansing, kegiatan menarik kayu jalur ini dinamakan 'Tradisi Maelo Kayu Jalur'. Tradisi ini sudah ada turun temurun, sejak adanya pacu jalur.

Di masa kini, walaupun sudah ada alat berat yang bisa membantu penarikan kayu jalur, masyarakat tetap melakukan 'maelo'. Kecuali, untuk kondisi tertentu.

"Agar terasa ringan, tukang merampingkan kayu jalur di dalam hutan," ujar Dedi Gusriadi, pemuda Sako yang ikut 'maelo' kayu jalur.

Kendati ratusan orang yang datang, kayu jalur tetap sulit untuk dikeluarkan dari dalam hutan. Kadang, butuh waktu berminggu-minggu untuk mengeluarkan kayu jalur ini.

"Kemaren belum bisa keluar. Rencana, akan dilanjutkan pada Minggu depan," ujar Dedi.

Ya begitulah. Masyarakat Kuansing menyempatkan waktu untuk 'maelo' kayu jalur. Dalam seminggu, hanya satu hari digunakan untuk bergotongroyong membuat jalur. ***


wwwwww