Warga Malaysia Dominasi Kunjungan Wisatawan ke Sumbar

Warga Malaysia Dominasi Kunjungan Wisatawan ke Sumbar
Jam Gadang, salah satu ikon wisata di Sumbar.
Jum'at, 04 Januari 2019 14:09 WIB
PADANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat wisatawan mancanegara (wisman) asal Malaysia masih mendominasi kunjungan turis ke provinsi itu pada November 2018.

"Pada November 2018, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Sumbar mencapai 5.118 orang dan dari Malaysia mencapai 4.663 orang atau naik 26,21 persen dibandingkan Oktober 2018," kata Kepala BPS Sumbar Sukardi di Padang, Kamis (3/1/2018) seperti dilansir dari industry.co.id.

Menurut dia, karena didominasi oleh wisatawan asal Malaysia maka tingkat kunjungan akan dipengaruhi oleh jadwal libur setempat.

"Kalau sedang musim libur (di Malaysia), maka kunjungan akan meningkat, sebaliknya jika tidak akan berkurang," kata dia.

Selain dari Malaysia, pada November 2018 kunjungan wisatawan asing ke Sumbar berasal dari Australia 144 orang, Perancis 32 orang, Tiongkok 24 orang, Inggris 23 orang, Thailand 21 orang, Jerman 19 orang, Singapura 18 orang, India 17 orang, Amerika Serikat 15 orang dan negara lainnya 142 orang.

Dilihat dari rata-rata lama menginap tamu asing di hotel berbintang pada November 2018 mencapai 1,55 hari atau naik 0,05 hari dibandingkan bulan sebelumnya.

Sukardi merinci berdasarkan kelas hotel, tamu asing paling banyak menginap di hotel bintang tiga selama 3,44 hari, hotel bintang satu 1,74 hari, hotel bintang dua 2,09 hari dan hotel bintang empat 3,18 hari.

Sebelumnya Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumatera Barat menilai tahun ini kunjungan wisatawan ke Sumbar merupakan yang terbaik dibanding tahun sebelumnya.

"Teman-teman hotel senang, karena tingkat hunian nyaris penuh, biasanya kan ada musim ramai dan sepi, tapi tahun ini cukup merata," kata Ketua Asita Sumbar Ian Hanafiah.

Asita menilai untuk meningkatkan kunjungan wisatawan perlu penambahan rute penerbangan dari Jakarta ke Padang untuk menekan harga tiket yang tergolong mahal akibat tingginya permintaan.

"Info dari maskapai, tahun ini tingkat keterisian pesawat lumayan tinggi, ini menyebabkan tiket mahal, jika pemerintah provinsi ingin meningkatkan kunjungan wisatawan solusinya penambahan jadwal penerbangan," katanya seperti dilansir Antara.

Menurutnya dibandingkan dibandingkan rute Pekanbaru-Jakarta dengan Padang-Jakarta yang jaraknya relatif sama, tiket ke Padang jauh lebih mahal.

"Ini terjadi karena hukum pasar saat permintaan tinggi harga naik, menandakan orang juga ramai ke Padang, maskapai tentu saja akan mengambil untung karena dijual mahal saja laku," katanya. ***

Editor:arie rf
Sumber:industry.co.id
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Sumatera Barat

wwwwww