Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
Umum
22 jam yang lalu
Jupiter Soroti Makna Demokrasi AS, Suara Rakyat Tak Boleh Dibeli
2
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
Olympic
18 jam yang lalu
Antarkan Tim Asia Raih Emas FEI Continental, Dinov Berjuang di Invidual Jumping
3
Direktur LBH JARAK Sebut "Genk Solo" Mainkan Issue Diversion
Umum
15 jam yang lalu
Direktur LBH JARAK Sebut Genk Solo Mainkan Issue Diversion
4
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
Kemenpora
16 jam yang lalu
Hadiri Pelantikan PP Hikmahbudhi, Menpora Erick Ajak Pemuda Fokus Peguatan SDM dan Ekonomi
5
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
Ekonomi
20 jam yang lalu
Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
6
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Metropolitan
16 jam yang lalu
PDS HB Jassin Masuk MOWCAP, Warisan Sastra Jakarta Diakui Dunia
Home  /  Berita  /  Badminton

Ingin Jadikan KPK Lembaga Tunggal Pemberantas Korupsi, Saut Situmorang Dinilai Emosional

Ingin Jadikan KPK Lembaga Tunggal Pemberantas Korupsi, Saut Situmorang Dinilai Emosional
Pakar TTPU Yenti Ginarsih. (Istimewa)
Selasa, 29 Januari 2019 19:57 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Pakar Hukum Pidana Yenti Ganarsih, menilai pernyataan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Saut Situmorang soal perluasan kewenangan lembaganya sarat emosi.

"Saya rasa pernyataan itu agak emosional. Perkara korupsi di Indonesia jumlahnya lebih dari 2000-an setiap tahun," kata Yenti saat dihubungi GoNews.co, Senin (29/01/2019).

"SDM (sumber daya manusia)-nya KPK berapa? Tidak mungkinlah," ujar wanita yang juga dikenal sebagai pakar hukum soal pidana money laundry ini.

Yenti lantas berbalik mempertanyakan, apa yang dimaksud Saut dengan menggunakan unsur kata "barang siapa" dalam pernyataannya.

"Saya juga tidak tahu maksudnya yang apa ya tentang "barang siapa". (Toh saat ini, red) KPK bisa menjangkau Polri," tukas Yenti.

"Bukankah, sekarang juga sudah menjangkau Polri. Karena "polri penegak hukum" yang termasuk subyek yang bisa dijangkau KPK. Kalau TNI mau dijangkau buat dulu UU-nya," imbuh wanita yang juga menjadi dosen Ilmu Hukum di Universitas Trisakti ini.

Sebelumnya diberitakan, Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, berharap KPK diperkuat hingga bisa menangani semua kasus korupsi di Indonesia. Terdapat unsur kata "barang siapa" dalam pernyataan Saut yang diucapkan di Rapat Kerja dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan pada Senin (28/01/2019).

"Jadi, kalau Indonesia mau cepat bersih dari korupsi sudah lah kasus korupsi ini ditangani oleh KPK saja. Kalau dari nol rupiah sampai sekian rupiah ditangani oleh KPK, maka barang siapanya (yang bisa diperiksa) itu bisa ditangani, mulai dari TNI dan Polri. Apalagi kalau perusahaan swasta juga dimasukan, maka Indonesia akan cepat bersih," kata Saut.

Dalam berita di beberrapa media berjudul "KPK Usul agar Jadi Satu-Satunya Lembaga yang Tangani Kasus Korupsi" itu dikabarkan, Saut tengah menjawab pertanyaan anggota komisi III dari fraksi Golkar soal "kapan Indonesia bebas korupsi?", kala menyampakian pernyataan itu.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:DKI Jakarta, Metropolitan, Voli, Olympic, Badminton
wwwwww