Mengurai Buku 'Tetap Kaya dan Bahagia di Usia Senja'

'Menjadi Guru Adalah Cita-citaku'

Menjadi Guru Adalah Cita-citaku
Komaryatin saat menunjukkan buku hasil karyannya. (GoNews.co)
Selasa, 05 Februari 2019 12:50 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
PEKANBARU - Komaryatin, wanita paruh baya asal Jawa Tengah yang sudah menetap bertahun-tahun di Kabupaten Siak, Riau, yang juga mantan kepala Sekola Menengah Umum (SMU) di Dayun Siak kembali meluncurkan buku.

Buku berjudul "Tetap Kaya dan bahagia di usia senja" adalah hasil karya ke-5 dari Komaryatin, S.Pd.

Baca Juga: Komaryatin Ajak Pensiunan Bahagia dan Kaya di Usia Senja

Buku kelima Komaryatin sedikit berbeda dengan buku-buku cetakan sebelumnya yang ia tulis. Kali ini Komaryatin tak lagi menulis kegalauan hatinya, tapi lebih memberi motivasi ke pembacanya.

Di Sub Judul 'Menjadi Guru Adalah Cita-citaku', Komaryatin menceritakan kisah sebelumnya yang ia tulis yakni, Angan-angan seorang bocah untuk meraih sukses. Dimana bocah itu adalah dirinya yang memang berkeinginan menjadi seorang yang sukses sebagai tenaga pengajar.

Bahkan cita-cita menjadi guru, sudah ia impikan sejak tahun 1978 nan. Lalu tercapaikah cita-cita Komaryatin itu?

Sekian puluh tahun yang lalu, dilihat dari gaji atau kesejahteraan, Guru tidak termasuk profesi menjanjikan, kalau ada anak tamatan SMP Negeri yang termasuk favorit, kemudian melanjutkan ke SPG atau sekolah pendidikan Guru, maka anak tersebut dijuluki Caguplo, singkatan dari calon guru pelosok.

"Profesi guru terutama guru SD mulai menarik ketika sekitar pertemgahan tahun 1978 an. Pada waktu itu tamatan SPG langsung diangkat menjadi CPNS dan mengajar di SD, yang sangat popular dengan nama SD inpress,".

Baca Juga: Angan-angan Komaryatin yang Ingin Sukses

Saat itu, Guru tidak lagi indetik profesi orang kampung, dengan penampilan dan wajah seperti layaknya orang kampung, juga dengan nama khas orang kampung.

"Namun demikian walaupun menjadi guru SD sangat mudah, saya pribadi tidak ingin menjadi guru SD, dengan pertimbangan karakter saya yang kurang telaten menghadapi anak kecil, juga menurut pemikiran saya, anak SD belum bisa diajak berkomunikasi. Jadi cita-cita saya ingin menjadi guru SMA".

Untuk itu, selasai mengenyam pendidikan SMA, Komaryatin melanjutkan kuliah di IKPI dan meminta izin ke sang ibu, jika dirinya ingin menjadi guru, iapun berjanji akan mengikuti seleksi kepala sekolah. Dan jika sudah diangkat menjadi kepala sekolah ia bercita-cita membeli mobil untuk menjemput dan membawa jalan-jalan kedua orang tua keluar kota.

"Ucapan saya ini menyebabkan keluarga saya, terutama kakak saya tertawa, dianggapnya saya asal bicara, terlalu ambisius, dan menganggap saya terlalu mudah memandang suatu persoalan. Tetapi semakin ditertawakan, semakin kuat keinginan untuk membuktikan, bahwa saya bisa meraih cita-cita itu".

Dimulai dari Siak Sri Indrapura.

Baca Juga: Mantan Kepala SMAN Dayun Nyaleg DPRD Siak Lewat Demokrat

Ada beberapa hal yang tidak tidak ia perhitungkan pada saat Komaryatin mengemukakan keinginan dihadapan ibunya soal cita-citanya menjadi kepala sekolah dan membeli mobil.

"Hal pertama yang tidak diperhitungkan adalah saya tidak memperhitungkan dimana saya ditugaskan, waktu itu hanya berpikir ruang lingkup sebatas kabupaten tempat kelahiran saya. Sebagai anak yang masih berumur belasan tahun belum berfikir bahwa saya seorang perempuan yang suatu saat akan menikah dan dibawa suami".

Dan ternyata benar, meskipun ia berhasil meraih mimpinya menjadi guru, Komaryatin tak bisa mengabdi di Kampung Halamanya di Banyumas Jawa Tengah.

Tapi ia justeru mendapat tugas mengajar di SMAN 1 Sia, Provinsi Riau. Meski demikian, ia tetap menjalaninya dengan ikhlas dan yang terpenting cita-citanya menjadi guru tercapai.

Meskpiun demikian, bukan berrati tanpa kendala. Perbedaan adat istiadat juga memaksanya harus cepat beradaptasi di tempat ia memulai kariernya.

"Nada atau logat saya ini kan jawanya medok, sementara saya harus mengajar anak-anak yang kebanyakan anak asli siak atau suku melayu. Maka wajar apabila sedikit kendala pada saat saya memberikan materi pelajaran".

"Contoh kecil saya sebagai guru geografi tentunya sering menyebut lautan, sungai atau pulau. Reaksi anak di dalam kelas akan riuh dan penuh tertawa. Dengan sedikit teman. Saya akan bertanya: kenapa kalian ketawa? Mereka pun menjawab, ibu menyebut sungai dengan kata sunge dan menyebut pulau, pulo. Seharusnya apa? Seharusnya sungai itu akhirannya ai bukan e bu, pulau itu akhiran itu au bukan o".

"Dari perbedaan bahasa saja, saya justeru mendapat ilmu baru, inilah hal-hal yang menurut saya malah menyenangkan".

Awal tahun 1990 ketika ia mulai bertugas di SMAN 1 Siak, saat itu Kabupaten Siak masih masuk wilayah kabupaten Bengkalis. Masyarakat siak pada waktu itu mata pencahariannya adalah nelayan, petani karet, petani padi, petani kelapa sawit, pegawai negeri dan karyawan swasta yang bekerja di perusahaan-perusahan yang beroperasi di Siak.

Di kecamatan Siak sendiri saat itu lulusan SMAN 1 Siak yang melanjutkan ke jenjang kuliah sangat rendah hanya sekitar 20% saja. Faktornya, selain ekonomi juga lemahnya daya dorong ataupun daya tarik agar siswa melanjutkan kuliah. Motivasi belajar siswa tergolong apa adanya, kurang adanya persaingan didalam hal pencapaian nilai mata pelajaran.

Ada semacam pemikiran atau pandangan diantara mereka menjadi juara umum sekalipun paling akhirnya bekerja di kebun, atau paling hebat di perusahan-perusahan yang ada di Siak itu sendiri.

Namun demikian perjuangan siswa SMAN 1 Siak menuju sekolah tempat mereka belajar perlu diacungi jempol. Anak-anak yang berasal dari kampung Paluh, Benteng Hulu, Benteng Hilir, harus memakai jasa sampan dayung. Bagi yang memiliki sepeda dari pelabuhan menuju sekolah memakai sepeda bagi yang tidak memiliki dia harus berjalan kaki sejauh 3km.

Sampai disekolah terkadang badan sudah berkeringat juga letih. Apabila sudah memasuki Pukul 13.00 WIB, siswa sudah mulai mengantuk. Ada juga yang melamun.

"Saya yang selalu mengajar jam siang paling sering melihat situasi seperti ini. Suatu saat saya mendekati salah seorang siswa perempuan yang sedang melamun, saya bertanya "Kamu kenapa melamun?" Dia menjawab "Saya sedang berfikir masak apa kira-kira ibu saya, saya kuatir pas pulang kerumah nanti ibu saya tidak masak atau yang dimasak tidak enak". Jawaban spontan, yang begitu lugu dan lucu. Kelak sekitar 15 tahun kemudian, siswa ini yang akan mengisi perkantoran yang berada di kota Siak sebagai PNS, setelah siak menjadi kabupaten lepas dari kabupaten induk kabupaten Bengkalis pikir saya begitu".

"Dan ternyata benar, ada beberapa siswa siswi saya yang akhirnya suksesn menjadi PNS, bahkan hingga saat ini,". ***


wwwwww