Konflik PSI-PDIP dan OTT Rommy Lemahkan Koalisi Jokowi-Ma'ruf

Konflik PSI-PDIP dan OTT Rommy Lemahkan Koalisi Jokowi-Maruf
Sabtu, 16 Maret 2019 12:30 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai, kasus penangkapan Ketua Umum PPP, Romahurmuziy dan kegaduhan internal antara PSI dan PDIP melemahkan koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin.

"Koalisi Jokowi-Ma’ruf akan kehilangan fokus dan melemah karena kegaduhan internal dan tertangkapnya Ketum PPP," kata Pangi di dalam keterangannya, Jumat (15/3).

Menurut Pangi, TKN akan dibuat sibuk dan fokus pada kasus hukum yang dialami Rommy. TKN, harus bekerja keras untuk menjaga dan mempertahankan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf karena kasus ini dengan mengelola emosi publik.

"Harus kita akui bahwa ini akan berimbas pada figur pak Jokowi sendiri, personal brendingnya. Yang kedua itu soal isu sentimen, soal mengelola emosi publik," ujarnya.

Pangi melanjutkan, internal PPP akan sibuk pada pemulihan nama baik partai. Selain itu, ia memprediksi bakal ada perebutan kekuasaan atau pemilihan ketua umum baru pengganti Romi.

"Tidak mustahil konflik berkepanjangan akan terjadi lagi. Nanti akan berlanjut pada konflik memperebutkan ketua umum di internal PPP. Belum nanti pengaruhnya pada mesin partai dan pemenangan pak Jokowi di pilpres," ungkapnya.

Pangi menjelaskan, peranan partai sangat penting dalam pemenangan Pilpres. Sebab, jika mesin partai mati maka kemenangan di pilpres akan mustahil dicapai.

"Saya melihat mesin partai di koallisi Jokowi-Ma’ruf masih tanda tanya, masih setengah hati," imbuhnya.

Sementara terkait konflik PSI-PDIP, menurut Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini akan memperparah keadaan dan semakin melemahkan koalisi ini.

"Ketika partai sudah berkonflik sesama pendukung Jokowi, misalnya antara PSI dengan PDIP tentu tidak baik dari segi soliditas dukungan," jelas Pangi.

Pangi menilai PSI tidak memikirkan soliditas dukungan. Menurutnya, partai besutan Grace Natalie itu hanya ingin terkenal lantaran elektabilitasnya tak memenuhi batas elektoral Pileg.

Karena itu, menurut Pangi, PSI menyerang PDIP dengan harapan ikut numpang tenar menaikkan elektabilitas, karena PDIP merupakan mesin utama koalisi bersama beberapa partai lainnya.

"Memang ini sebenarnya menjadi rumit ketika PSI berkonflik dengan PDIP, itu adalah mesin utama. Mestinya solid dan fokus pada pilpres, tapi sesama mereka malah berantem demi kepentingan sesaat," ungkapnya.

"Saya melihat mesin partai di koallisi Jokowi-Ma’ruf masih tanda tanya, masih setengah hati," kata Pangi menambahkan.

"Jadi soliditas internal partai pendukung Jokowi harus dipertanyakan sekarang. Efektifitas mesin partainya seperti mau mematikan mesin," pungkasnya.***


wwwwww