Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Petugas Kebersihan DKI Jakarta Nikahi Bule Cantik Austria, Begini Kisah Cintanya
Umum
11 jam yang lalu
Petugas Kebersihan DKI Jakarta Nikahi Bule Cantik Austria, Begini Kisah Cintanya
2
JPU KPK Sebut Imam Nahrawi Kerap Terima Uang Tidak Sah Melalui Asisten Pribadi
Hukum
11 jam yang lalu
JPU KPK Sebut Imam Nahrawi Kerap Terima Uang Tidak Sah Melalui Asisten Pribadi
3
RS Bantah Berikan Rp15 Juta Agar Pasien Meninggal Akibat Asam Lambung Jadi Pasien Covid-19
Kesehatan
9 jam yang lalu
RS Bantah Berikan Rp15 Juta Agar Pasien Meninggal Akibat Asam Lambung Jadi Pasien Covid-19
4
Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Pusat Minta Maaf Alasan Pembayaran Dihitung Rata-rata Tiga Bulan
Ekonomi
6 jam yang lalu
Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Pusat Minta Maaf Alasan Pembayaran Dihitung Rata-rata Tiga Bulan
5
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
Politik
3 jam yang lalu
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
6
Anggaran Covid-19 Membengkak dari Rp405,1 T jadi Rp677,2 Triliun, Ini Tanggapan Anggota Komisi XI DPR RI
Politik
7 jam yang lalu
Anggaran Covid-19 Membengkak dari Rp405,1 T jadi Rp677,2 Triliun, Ini Tanggapan Anggota Komisi XI DPR RI
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Sandi Beberkan Rahasia Agar Terlepas Dari Defisit Neraca Perdagangan

Sandi Beberkan Rahasia Agar Terlepas Dari Defisit Neraca Perdagangan
Kamis, 16 Mei 2019 17:44 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
MAKASSAR - Defisit neraca perdagangan yang terjadi pada akhir masa Pemerintahan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo memicu kekhawatiran seluruh pihak, khususnya para pelaku bisnis. Padahal, salah satu solusi agar terbebas dari defisit diungkapkan Calon Wakil Presiden nomor urut 2, Sandiaga Salahudin Uno sangat mudah dan sederhana, yakni cintai produk dalam negeri.

Solusi tersebut katanya dapat membebaskan Indonesia dari keterpurukan ekonomi yang tercatat paling buruk sejak bangsa Indonesia merdeka. Bukan tanpa alasan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Sandi menyebutkan neraca perdagangan pada bulan April 2019 mengalami defisit sebesar USD 2,5 miliar.

Neraca perdagangan pun kian Anjlok lantaran nilai impor naik menjadi sebesar 12,25 persen atau senilai USD 15,10 miliar dolar. Defisit tersebut berbanding terbalik dengan neraca perdagangan yang sempat surplus sebesar USD 540 juta pada Maret 2019.

Permasalahan tersebut diungkapkan Sandi pernah dibahas ketika debat Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang digelar resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ketika itu, Sandi bertanya kepada Jokowi terkait langkah perbaikan ekonomi yang bakal ditempuh soal defisit neraca perdagangan yang terjadi pada tahun 2018 lalu.

"Hari paling kelam dalam ekonomi kita, defisit anggaran perdagangan paling buruk dalam sejarah Indonesia. Apa strategi ekonomi kita? Saya tanya waktu debat. Jawabnya, 'wah sudah beres Februari (2019)sudah membaik. Saya sudah bilang,' jika tidak ada strategi khusus ekonomi akan parah'," ungkap Sandi kepada Mahasiswa LP3i Makasar, Sulawesi Selatan pada Kamis (16/5/2019).

Lebih lanjut dipaparkan Sandi, pemerintah harus dapat segera mengatur porsi ekspor terhadap impor agar neraca perdagangan tidak kembali defisit. Bersamaan dengan hal tersebut, pemerintah harus melihat sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk meningkatkan kemandiriaan.

"Kalau tidak bisa mengatur ekspor impor, neraca perdagangan kita jebol. Selain pemerintah, yang bisa membantu keluar dari buruknya neraca perdagangan adalah entrepreneurship. Ekonominya tumbuh, pengusahanya banyak," ungkap Sandi.

Kemandiriaan yang tercipta lewat kewirausahaan dijelaskan Sandi dapat mengurangi konsumsi produk impor yang diketahui kini menguasai pasar lokal. Pemerintah juga harus mempromosikan produk bangsa, bukan justru membanjiri pasar dengan produk impor.

"Indonesia harus belajar dari Sulawesi Selatan. Untuk meningkatkan produksi dibutuhkan para entrepreneur, itu bisa mengurangi konsumsi terhadap produk impor. Jadi untuk mengurangi defisit neraca perdagangan, cintailah produk-produk Indonesia," ungkap Sandi.***


wwwwww